Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Sragen

Bupati Yuni Pastikan Kabupaten Sragen Belum Siap New Normal

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati sampaikan Sragen belum bisa terapkan new normal dalam waktu dekat.

TRIBUN JATENG/MAHFIRA PUTRI
Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati 

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN - Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati sampaikan Sragen belum bisa terapkan new normal dalam waktu dekat.

Salah satu alasan ialah Pemkab Sragen belum bisa melihat potret secara keseluruhan persebaran Covid-19 di 20 kecamatan Kabupaten Sragen.

"Harusnya kita lakukan rapid test 1% dari total populasi dan lebih baik lagi sebenarnya langsung swab."

"Namun ini kita lakukan rapid test terlebih dahulu jika ada yang positif baru kita swab test," terang Yuni, Rabu (3/6/2020).

Dengan dilakukan rapid test di 20 kecamatan ini, baru akan diketahui sebarannya dan yang terpenting masyarakat tidak perlu takuti apabila ada yang reaktif bahkan positif.

Yuni menambahkan dua RSUD dan rumah sakit darurat serta tenaga medis telah kita melayani.

Selain itu, new normal dikatakan Yuni masih harus melihat pasien Covid-19 di Kabupaten Sragen yang masih diangka sembilan orang.

"Kita harapkan minggu ini 5 OTG bisa dinyatakan sembuh dan pasien lain juga sembuh, baru kita bisa bicara new normal. New normal disesuaikan dengan kondisi kabupaten," lanjut Yuni.

Terkait new normal ASN Yuni menyampaikan sesuai surat dari Kemendagri per (5/6/2020) seluruh ASN sudah masuk dan tetap menjalankan protokol Covid-19.

"Berdasarkan surat itu semua masuk tidak pakai WFH tapi untuk konsepnya baru akan kami rapatkan besok,"kata Yuni.

Yuni menyampaikan konsep lain yang perlu diperhatikan lagi ialah belajar anak-anak sekolah dan kegiatan di pondok pesantren.

Terkait masuknya anak-anak sekolah Yuni akan mengikuti pemerintah pusat yakni masuk pada tahun ajaran baru (13/7/2020).

Yuni menyampaikan pihaknya tidak terlalu terburu-buru mengambil keputusan untuk new normal di bidang pendidikan karena tidak ingin seperti Korea yang harus meliburkan kembali anak-anak.

"Sekolah mau gimana?"

"Kan tidak mungkin dimasukkan semua, kalau misalnya masuk sehari berapa jam?"

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved