Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi Pagi

FOKUS : Berubahnya Wajah Olahraga

Pandemi virus corona dan kebijakan yang mengikutinya berdampak besar pada dunia olahraga. Baik olahraga prestasi maupun olahraga

Penulis: abduh imanulhaq | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Abduh Imanulhaq atau Aim wartawan Tribun Jateng 

Oleh Abduh Imanulhaq

Wartawan Tribun Jateng

PANDEMI virus corona dan kebijakan yang mengikutinya berdampak besar pada dunia olahraga. Baik olahraga prestasi maupun olahraga rekreasi.

Pembatasan sosial oleh pemerintah sejumlah negara membuat berbagai perhelatan ditunda. Dari tingkat dunia hingga rukun tetangga, global hingga lokal.

Kita tahu, IOC dan penyelenggara telah menjadwal ulang Olimpiade 2020 di Tokyo menjadi tahun depan. Kualifikasi Olimpiade musim dingin yang akan berlangsung di Beijing pada 2022 pun tetap terganggu: ditunda atau dibatalkan.

Efek paling keras dirasakan bisnis sport sebagai tontonan. Sepakbola, bola basket, dan balapan Formula 1 serta MotoGP beberapa contohnya.

Kompetisi atau turnamen ditunda jelas berakibat kerugian bagi semua pemangku kepentingan. Mulai dari atlet atau pemain, suporter, klub, panitia, pengelola arena, pengurus federasi hingga stasiun televisi.

Bahkan pedagang kaus dan makanan atau pembuat stiker tak luput merasakan godamnya. Tak terkecuali pelaku transportasi di trayek yang melintasi arena.

Potensi kerugian yang kasat mata bisa ditaksir dari hilangnya keuntungan penyiaran, sponsor, dan penjualan tiket. Jumlah yang jelas tidak kecil bahkan sangat meraksasa menurut laporan firma akuntansi Deloitte.

Secara langsung, dampak paling terasa bagi atlet pro adalah pemangkasan gaji. Bahkan di titik paling ekstrem adalah sama sekali tidak mendapat bayaran sesuai kontrak.

Terang atlet amatir juga menghadapi masalah yang sama dalam istilah berbeda. Uang saku atau biaya suplemen tidak cair karena pemusatan latihan ditiadakan.

Dari perspektif berbeda, klub-klub atau induk organisasi olahraga mengalami pukulan telak. Tidak ada pemasukan sama sekali, di sisi lain harus terus mengeluarkan biaya tetap dan biaya operasional.

Angin segar bertiup seiring waktu, pelonggaran pembatasan sosial membuat bisnis olahraga di beberapa negara kembali bergulir. Di dunia sepakbola, Liga Korea dan Liga Jerman menjadi pemuka dengan melanjutkan kompetisi yang tertunda.

Bagi penggemar si kulit bundar, perhelatan ini jelas menggairahkan. Terlebih sejumlah pengelola liga juga mulai ancang-ancang memulainya lagi.

Jadwal balapan tahun ini pun segera disusun ulang. Memang tidak dimungkinkan berlangsung penuh tapi kita tahu bisa memuaskan dahaga para penggemar motorsport.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved