Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Wabah Virus Corona

Inilah 6 Misteri Virus Corona yang Belum Terpecahkan Sampai Saat Ini

Namun sejak pertama kali kemunculannya di Wuhan, China, akhir Desember 2019 lalu, masih banyak misteri yang menyelimuti tentang virus ini.

Editor: galih permadi
IST
Ilustrasi Virus Corona 

TRIBUNJATENG.COM - Virus corona penyebab Covid-19 sudah menginfeksi lebih dari 6,7 juta orang di dunia.

Namun sejak pertama kali kemunculannya di Wuhan, China, akhir Desember 2019 lalu, masih banyak misteri yang menyelimuti tentang virus ini.

Sebagai virus baru, pengetahuan medis dan ilmuwan mengenai bagaimana sebenarnya virus ini memang masih sangat lah terbatas.

Profesor Amin Sebut Jenis Virus Corona di Indonesia Tak Masuk Kategori SGV yang Ada di Dunia

Seolah Tak Pernah Takut Siapapun, Nyali Nikita Mirzani Pernah Ciut Setelah Dilaporkan Sosok Ini

Sebut Hadiah Miliaran dari Raffi Ahmad dan Nagita Slavina Penipuan, Anton Ungkap Alasan Perbuatannya

Terpidana Zina di Bengkel Merengek Minta Masuk Ambulans, Tak Kuat Eksekusi Hukum Cambuk 100 Kali

Meskipun berbagai penelitian terus dilakukan seiring terus bertambahnya jumlah kasus yang terjadi.

Berikut ini 6 hal yang belum diketahui secara pasti dari virus corona yang telah merebak kurang lebih 6 bulan lamanya, sebagaimana dikutip dari New York Post, Senin (1/6/2020).

1. Berapa banyak orang yang terinfeksi

Tidak ada satu orang pun yang mengetahui dan dapat memastikan berapa banyak sesungguhnya orang di dunia ini yang sudah terinfeksi virus corona.

Di Indonesia, setiap hari dilaporkan kasus infeksi positif, sembuh dan meninggal.

Namun di luar jumlah tersebut masih ada kategori PDP, ODP dan OTG yang belum dapat disimpulkan.

Termasuk angka kematian pada PDP dan ODP sebelum dipastikan apakah telah positif terinfeksi atau tidak dari virus corona.

PBB sebelumnya mengatakan bahwa orang yang meninggal dengan gejala Covid-19 perlu dimasukkan dalam angka kematian terkait Covid.

 Oleh karena itu, para ahli statistik percaya sesungguhnya ada lebih banyak orang yang sudah terinfeksi, namun tidak jelas berapa banyaknya.

Dari semua kota atau negara, para ahli lebih mempercayai data dari wilayah yang lebih banyak melakukan pengujian terhadap populasinya.

Misalnya New York yang telah menguji sekitar 9,6 persen dari populasinya.

Semakin banyak orang yang diuji, maka semakin banyak kasus yang ditemukan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved