Berita Multifinance
Bisnis Pembiayaan Multifinance hingga Akhir Tahun Diprediksi Terpukul
Asosisi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) telah memprediksi dampak pandemi virus corona atau covid-19 terhadap bisnis pembiayaan.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Asosisi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) telah memprediksi dampak pandemi virus corona atau covid-19 terhadap bisnis pembiayaan.
Bila pada awal tahun asosiasi memperkirakan pembiayaan multifinance tumbuh 4 persen, akibat pandemi pembiayaan multifinance diprediksi hanya tumbuh 1 persen atau bahkan kurang dari itu.
“Pertumbuhan pembiayaan bisa sampai minus, karena pembiayaan kendaraan juga turun. Tapi itu bergantung dari berapa lama penyelesaian corona ini," kata Ketua APPI, Suwandi Wiratno, akhir pekan lalu.
Menurut dia, pembiayaan kendaraan paling terpukul dan akan menekan bisnis multifinance. Sebab, kendaraan menyumbang hingga 60-70 persen dari total pembiayaan multifinance.
Suwandi menuturkan, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) memprediksi penjualan mobil tahun ini hanya 500.000 unit. Sementara penjualan motor juga meleset dari perkiraan awal tahun.
Saat ini, dia menambahkan, ada beberapa bank mulai mengunci likuiditas multifinance di tengah ketidakpastian ekonomi dan daya beli masyarakat.
"Sehingga, multifinance yang tidak terafiliasi dengan bank akan kesulitan cashflow," paparnya.
PT Mandiri Tunas Finance (MTF) mencatatkan penurunan pembiayaan Rp 7,8 triliun hingga April 2020. Nilai itu turun 17,89 persen dari periode sama tahun lalu mencapai Rp 9,5 triliun.
Perusahaan pun merevisi target pembiayaan tahun ini dari Rp 30 triliun menjadi Rp 15 triliun, serta gencar menawarkan produk multiguna untuk meningkatkan kinerja tahun ini.
Direktur MTF, Harjanto Tjitohardjojo menyebut, produk multiguna menjadi tambahan pendapatan, sekaligus kebutuhan corporate fleet customer yang masih memadai.
"Sampai saat ini penawaran multiguna mencapai 5 persen dari portofolio perusahaan," ungkapnya.
MTF juga berupaya mengoptimalkan pasar Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) dari nasabah Bank Mandiri maupun Bank Mandiri Syariah untuk menopang kinerja tahun ini.
Naikkan DP
Adapun, industri multifinance secara perlahan kembali menyalurkan pembiayaan baru. Guna menjaga kualitas kredit di tengah pandemi, beberapa pemain mulai menaikkan uang muka (down payment/DP).
Suwandi Wiratno memperkirakan, multifinance menaikkan uang muka menjadi 30-40 persen dari total pembiayaan. "Kenaikan uang muka beberapa multifinance mulai terjadi pada April hingga Mei 2020," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-uang-rupiah-nilai-tukar-rupiah.jpg)