Sabtu, 16 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Memilih Batik Pewarna Alam untuk Kelestarian Lingkungan

Sejak tahun 2017 lalu, pemilik Batik Warna Alam Siputri itu tak pernah mengubah visinya untuk turut melestarikan alam.

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Daniel Ari Purnomo
Istimewa
Seorang wanita tampak mengenakan produk Batik Warna Alam Siputri. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Setiap usaha membutuhkan kekonsistenan bagi para pelakunya.

Jika tidak, usaha tersebut akan terombang-ambing tanpa arah tujuan.

Hal itulah yang sekiranya menjadi pegangan bagi salah satu pelaku UMKM di Kota Semarang, Putri Merdekawati.

Sejak tahun 2017 lalu, pemilik Batik Warna Alam Siputri itu tak pernah mengubah visinya untuk turut melestarikan alam di samping menjaga salah satu warisan budaya Indonesia tersebut.

Wanita asal Prambanan, Yogyakarta yang kini membuka workshop batik di Pakintelan, Gunungpati, Semarang ini tetap konsisten menggunakan bahan-bahan alami untuk setiap batik yang ia produksi.

"Mungkin bagi sebagian orang, itu sangat idealis.

Namun bagi saya, kalau tidak ada suatu idealisme yang dipegang membuat patah semangat.

Itu yang membuat semacam acuan. Setiap inovasi koridornya adalah melestarikan lingkungan dan melestarikan budaya," ujar Putri kepada tribunjateng.com, Minggu (21/6/2020).

Atas dasar itulah dirinya tak pernah asal menerima kerjasama walaupun banyak tawaran.

Visi tersebut tetap ia pegang.

Batik Warna Alam Siputri memiliki daya tarik tersendiri.

Sesuai namanya, Batik Warna Alam Siputri dibuat dari bahan-bahan alami.

Di antaranya dari daun ketapang, kayu mahoni, kayu teger, kayu secang, kayu tingi, dan buah Jolawe.

Bahan-bahan itu didapatkannya dari lingkungan sekitar.

"Seperti tempat saya, Workshop di Gunungpati, di desa, bahan bakunya juga masih mudah.

Beberapa saya beli dari supplier tetapi kalau daun ketapang ambil saja karena terkadang orang membuangnya.

Kemudian tanaman ketapang ini juga kami menanam sendiri, jadi mudah didapat," ungkap lulusan S2 Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) tersebut.

Menurut Putri, motif dan model batik alam Siputri juga memiliki keunikan tersendiri.

Motif dan model dibuat dengan jumlah terbatas sehingga tidak banyak orang yang menyamainya.

Batik dibuat dari bahan kain katun primis sanforised dan sutra.

"Keunikan batik yang kami produksi membuat pemakainya lebih 'berharga' krn motif/model terbatas sehingga tidak banyak kembaran.

Batik yang kami produksi bermakna juga karena ikut melestarikan lingkungan bagi pemakainya," paparnya.

Di samping itu, kata Putri, warna-warna yang dihasilkan dari Batik Warna Alam Siputri ini lebih lembut.

Hal itu karena komposisi warna berasal dari bahan-bahan alami.

Warna-warna ini terlihat lebih elegan dengan dasar hitam, coklat, dan lainnya.

"Batik yang kami produksi ini cocok bagi pecinta warna-warna lembut.

Jadi itu menjadi daya tarik tersendiri," terangnya.

Selama hampir tiga tahun usaha batik dengan pewarna alam ini telah digelutinya.

Dibantu 6 orang dalam tim, Putri berhasil mengelola tiga galeri di Kota Semarang, yakni Workshop & Gallery jalan Watusari RT 3 RW 6 Kelurahan Pakintelan Kecamatan Gunungpati Semarang, Outlet Bandara A Yani Semarang (di Galeri UMKM Jateng), dan Galeri UMKM Semarang (kawasan Kotalama Semarang).

Di samping itu, ia juga sukses melebarkan bisnis tersebut melalui e-commerce di Tokopedia Batik Siputri Store, website www.batiksiputri.com, dan akun instagram serta facebook batikwarnaalamsiputri17.

Batik Warna Alam Siputri telah memiliki pelanggan setia dengan database yang dimiliki.

"Pangsa pasar batik kami sudah tersegmen mulai dari menengah hingga menengah ke atas.

Batik kami jual mulai Rp 200 ribu sampai jutaan," jelasnya.

Lantas Putri membeberkan, Batik Warna Alam Siputri ini pernah dipamerkan dalam skala nasional.

Ramainya pembeli saat itu, membuat Putri dan timnya optimis untuk mengembangkan batik dengan pewarna alam.

Putri membeberkan, beberapa artis hingga pejabat pun pernah mengenakan batik produksinya tersebut.

"Kami pernah pameran skala nasional di pusat batik Pekalongan, ramai saat itu di luar dugaan.

Itu membuat kami lebih optimis dan semangat lagi untuk berkarya.

Di samping itu beberapa pejabat juga pernah membeli batik produksi kami ada Pak Ganjar, duta besar Jepang, dan kementerian dalam negeri juga pernah (membeli)," tukasnya. (idy)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved