Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi Pagi

FOKUS : Klaster Tahu Kupat

Tahu kupat, sebut saja sebagai akronim dari tak tahu dan kurang tepat. Dalam arti menyoal sebutan Solo sebagai zona hitam

tribunjateng/bram
Sujarwo atau Pak Jarwo wartawan Tribun Jateng 

Oleh Sujarwo

Wartawan Tribun Jateng

Tahu kupat, sebut saja sebagai akronim dari tak tahu dan kurang tepat. Dalam arti menyoal
sebutan Solo sebagai zona hitam penyebaran virus ganas, Covid-19. Pernyataan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Solo ini bikin Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranomo geram.

Pernyataan tersebut berawal ketika kasus COVID-19 di Solo tiba-tiba melonjak hingga 18, padahal sebelumnya kasus COVID-19 cenderung terkendali. Ganjar menilai penyebutan itu sengaja disampaikan oleh orang-orang yang tidak suka dengan Solo.

"Zona hitam ki jarene sopo to? (Zona hitam itu katanya siapa sih?) Yang ngomong siapa? Mungkin pengamat atau lagi benci? Kok banyak yang bilang zona hitam. Mungkin yang hitam itu bajumu!" ujar Ganjar seperti dikutip Kompas.com, Selasa (14/7/2020).
Sehari sebelumnya, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo menjelaskan bahwa zona hitam hanyalah

istilah karena drastisnya lonjakan kasus Corona. Dengan istilah itu, masyarakat diharapkan menjadi waspada.

"Bolehlah dikatakan zona hitam biar masyarakat lebih waspada, biar hati-hatilah. Karena apapun virus ini tidak terlihat," kata Rudy saat ditemui di Balai Kota Solo, Senin (13/7/2020).Jika dilihat sesuai indikator dalam situs covid19.go.id, Kota Solo masih berstatus zona oranye. Zona oranye berarti risiko penularan virus Corona dalam kategori sedang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih menyebutkan hari Selasa (14/7) itu yang positif Covid-19 di Solo bertambah 7 orang, 4 di antaranya berasal dari tenaga kesehatan (nakes) RSUD dr Moewardi (RSDM).

Empat nakes itu masih bagian dari 25 mahasiswa PPDS UNS yang positif kemarin. Total kasus kumulatif di Solo, jelasnya, menjadi 71 orang positif. 28 orang dirawat, 38 orang sembuh, 5 orang meninggal.

Ning mengatakan hasil pelacakan kasus penjual tahu kupat itu menghasilkan 9 orang positif Corona. Namun hanya 2 orang yang merupakan warga Solo, sisanya merupakan warga Sukoharjo, Boyolali, Karanganyar dan Sragen.

Dari itulah, kemudian muncul sebutan klaster tahu kupat. Jangan salah kaprah, biar tahu tepat, bahwa tahu kupat dan kupat tahu itu beda. Tahu kupat dari Solo, sedangkan kupat tahu dikenal berasal dari Magelang.

Namanya memang sekilas mirip, hanya berbalik nama saja. Kupat tahu sama-sama berbahan dasar ketupat dan tahu yang telah digoreng.

Tambahannya pun sama, yakni irisan kol, taoge, mie, dan bakwan. Yang membedakan, tahu kupat disiram kuah kecap berwarna cokelat kehitaman dan ditaburi kacang goreng utuh. Sedangkan kupat tahu menggunakan kuah dengan campuran bumbu kacang yang ditumbuk kasar.

Kupat sendiri, dalam bahasa Jawa, kependekan dari ngaku lepat dan laku papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan lebaran, yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Untuk leburan memiliki makna habis dan melebur.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved