Breaking News:

UIN Walisongo

OPINI M Rikza Chamami: Stigma Hijrah Klepon

Saya kira itu hanya isapan jempol saja. Dan berakhir dengan diskusi ilmiah. Tapi akhirnya harus menjadi isu liar yang jadi bahan candaan disana-sini.

IST
M Rikza Chamami Dosen UIN Walisongo 

Oleh M. Rikza Chamami
Dosen UIN Walisongo Semarang

Saya kira itu hanya isapan jempol saja. Dan berakhir dengan diskusi ilmiah. Tapi akhirnya harus menjadi isu liar yang jadi bahan candaan disana-sini. Soal apa sih? Soal KLEPON.

Ada yang bilang ini kerjaan buzzer yang sengaja jadi industri isu dan meremehkan agama. Ada yang bilang itu asli ulah pihak yang jualan agama. Ada yang bilang itu ya sekedar humor kehidupan di tengah pandemi.

Menarik memang menyebut kue klepon tidak Islami. Dimana menariknya? Menarik karena kesimpulan itu lucu sekaligus sama sekali tidak ilmiah. Lucu karena kue itu bukan manusia berakal dan bukan pula mukallaf.

Lha kok tiba-tiba disebut tidak Islami. Wah wah wah... Lucu kan?...

Memang kita semua sedang mengalami masa restart kehidupan akibat dahsyatnya pandemi covid-19. Yang sudah barang tentu mengalami dampak dan perubahan signifikan. Maka suasana ketegangan itu butuh relaksasi.

Jika relaksasi itu dengan isu badai politik nampak tidak menarik karena hanya elit yang berkepentingan. Jika relaksasi itu soal ekonomi juga sangat sensitif. Lalu ini malah didorong soal "agamaisasi kue klepon". Terus gimana itu?

Paling tidak, ada tiga hal yang perlu diperbincangkan bersama: Pertama, soal pemahaman agama dan agamaisasi. Trend yang berkembang pasca Pilpres dan Pileg soal isu agama dan agamaisasi sudah agak mereda. Maka ini ada gerakan test the water, isu begituan laku apa tidak. Ujung-ujungnya adalah soal cara pandang memahami agama hingga adanya agaimaisasi.

Kedua, fokus masyarakat hari ini adalah soal survival dan proteksi kesehatan. Tentunya untuk bisa bertahan hidup dengan kondisi sehat butuh penguatan imun; banyak vitamin, olahraga dan olahraga termasuk guyon mathon, itu penting. Kalau hidup tegang maka kurang energi positif.

Dan ketiga, warna warni pemikiran khas Indonesia memang susah untuk diseragamkan. Baru saja debat panjang soal RUU HIP hingga muncul kekhawatiran hidupnya PKI, disusul dengan klepon. Itulah Indonesia yang memang langgam ide dan gagasan itu selalu tidak bisa.

Jadi kalau ada yang bilang klepon tidak islami, itu dibilang lucu (sama seperti pandangan saya), itulah warna perbedaan sudut pandang. Lalu apa harus diluruskan? Ya setidaknya diluruskan dengan cara berdiskusi, bukan hanya debat kusir semata.

Sederhananya begini, biarkan klepon itu berada pada posisi kue yang oleh orang yang suka disebut enak. Dan tidak perlu diagamakan karena kue bukan manusia berakal. Jadi kue itu tidak beragama.

Bagi sedulur yang sudut pandangnya kue klepon itu tidak islami ya monggo-monggo saja. Sukur-sukur bisa menyampaikan argumentasi secara ilmiah dan menunjukkan dalil-dalil naqli dan aqlinya. Itu tambah keren.

Begitu nampaknya kita perlu ngopi bareng agar tetap semangat dan bisa guyon mathon. Salam satu jalur, selawase dadi sedulur.(*)

Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved