Breaking News:

UMKM Rintisan

Bahar Tak Ragu Kolaborasi Bersama Kawan buat Kembangkan Bisnis

Tak perlu menunggu lulus kuliah untuk mendapatkan pekerjaan. Bahar, pemilik usaha Sentana Project itu sudah merasakan hasil dalam bisnisnya.

TRIBUN JATENG
Bahar, pemilik UMKM rintisan mahasiswa, Sentana Projects 

TRIBUNJATENG.COM, TRIBUN - Dalam menjalani sebuah bisnis hanya ada dua kemungkinan: berhasil dan gagal. Bila yang didapatkan adalah keberhasilan maka akan membuahkan kesenangan, namun jika kegagalan akan membuahkan kesedihan. Selain kesedihan, ada pula makna yang dapat diambil dari kegagalan itu.

Hal itulah yang dirasakan oleh Bahar, mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin Unnes dalam menjalankan bisnis. Ia tak perlu menunggu lulus kuliah untuk mendapatkan pekerjaa. Kini, pemilik usaha Sentana Project itu bisa dibilang sudah merasakan hasil dalam menjalankan sebuah bisnis.

Pemuda asal Kabupaten Kebumen itu, kini bersama beberapa orang temannya itu membuat bisnis dengan bahan utama kulit sapi. Dari kulit sapi itu dia buat menjadi dompet, gelang, dompet korek, wadah ID card, dan sebagainya.

"Sebelumnya saya pernah gagal bikin usaha. Bahkan, saya pernah mencoba untuk bunuh diri. Namun, mungkin ya karena ada hubungan batin dengan ibu, ketika saya mau bunuh diri, ibu menghubungi saya. Waktu itu, dengan modal Rp 80 juta saya mendirikan sebuah cafe. Saya stres, bahkan depresi," ucapnya kepada Tribun Jateng, belum lama ini.

Dari kegagalan itu, dia mulai pelan-pelan bangkit kembali. Pada 2019, itu mulai dengan modal yang sangat minim memulai usahanya lagi. Bahar menuturkan, waktu itu hanya dengan modal Rp 600 ribu dia mulai membangun Sentana Project.

"Omzet pertama saya waktu itu hanya Rp 1 juta. Pelan-pelan, saya coba lagi bangun usaha. Selain itu, untuk menambah produksi, saya mengikuti beberapa event atau mengajukan dana hibah yang disediakan oleh pemerintah melalui Dinas Koperasi dan UKM," tuturnya.

Dia menyampaikan, saat ini omzet yang dia dapat sudah mencapai Rp 3 juta per bulan. Sebenarnya tidak banyak pesanan dalam jumlah besar. Namun, dengan kreativitas yang dia miliki, dia mengolah kulit sapi itu menjadi peranti aneka rupa yang diminati banyak orang.

"Pernah, ada satu perusahaan di Jawa Timur memesan wadah ID card berbahan kulit. Untuk pemesan paling jauh pernah ada juga dari Batam dan Kalimantan Tengah. Sebenarnya tidak banyak, namun itu sudah saya syukuri," terangnya.

Mahasiswa yang sekarang menempuh semester 14 ini sudah tak lagi menggantungkan sama sekali uang dari kedua orangtuanya. Hal itu karena selain penghasilan yang dia dapat sudah mencukupi, juga karena rasa bersalah yang mendalam karena pada bisnis sebelumnya sudah menghabiskan cukup banyak uang.

"Sentana Project ini, selain saya, ada juga teman-teman yang membantu. Selain itu saya tidak bisa bergerak sendiri dalam menjalankan bisnis ini, beberapa kali saya berkolaborasi dengan teman yang sudah punya usaha lain. Ya, istilahnya collabs begitulah. Sama-sama enaknya, sama-sama butuh," tuturnya.

Kolaborasi yang dia maksud misalnya, ada teman yang punya usaha pembuatan kerudung. Dia menambahkan brand atau nama menggunakan kulit sapi yang sudah dipasang. Selain itu, dia juga membuat packaging yang baik agar menarik pembeli.

"Di usaha ini saya juga memberikan kepada teman-teman saya untuk mengekspresikan diri membuat karya yang nanti bisa dipasarkan bersama-sama," ungkapnya.  (m sholekan)

Penulis: Muhammad Sholekan
Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved