Ngopi Pagi
FOKUS : Karyawan Menanti Santunan
Menteri Keuangan Sri Mulyani telah memberikan pernyataan mengenai rencana mempercepat penyerapan anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Penulis: Erwin Ardian | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Erwin Ardian
Wartawan Tribun Jateng
Pemerintah kembali akan mengeluarkan kebijakan baru terkait penanganan dampak pandemi Covid-19.
Menteri Keuangan Sri Mulyani telah memberikan pernyataan mengenai rencana mempercepat penyerapan anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Pemerintah akan memberikan santunan bagi para pegawai di sektor swasta yang memiliki gaji di bawah Rp 5 juta per bulan.
Teknis penyaluran bantuan ini, pemerintah akan langsung memberikan per dua bulan ke rekening masing-masing pekerja sehingga tidak akan terjadi penyalahgunaan.
Penerima bantuan adalah 13,8 juta pekerja non-PNS dan BUMN yang aktif terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan dengan iuran di bawah Rp 150.000 per bulan atau setara dengan gaji di bawah Rp 5 juta per bulan.
Tak tanggung-tanggung, untuk merealisasikan program itu, nantinya pemerintah akan merogoh anggaran belanja hingga Rp 31,2 triliun. Harapannya, program itu mampu merespon dampak dari pandemi Covid-19.
Seperti halnya hampir semua program pemerintah, wacana ini tentu menimbulkan pro dan kontra. Alasan menggulirkan program ini lantaran serapan dana PEN yang macet,terkesan dipaksakan.
Setidaknya minimnya serapan membuktikan kurangnya perencanaan dan perhitungan dalam menganggarkan dana. Atau memang kebutuhan akan anggaran belum ada. Besarnya anggaran penanganan Covid-19 tak diimbangi dengan kemampuan pemerintah untuk membelanjakan anggaran secara tepat guna.
Tentu saja kenyataan ini menimbulkan kerugian besar karena banyaknya dana yang harusnya bergulir ke masyarakat, akhirnya hanya tertahan di tangan pemerintah. Bagi pertumbuhan ekonomi, besarnya dana yang ngendon, tentu bisa berdampak buruk.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal ke dua ini jatuh di angka 5,32. meski sudah diprediksi sebelumnya akan turun, angka ini tentu jauh dari menggembirakan, mengingat selama ini pertumbuhan ekonomi kita selalu positif.
Seperti yang diungkapkan Presiden RI Joko Widodo, sektor yang palling terkena dampak pandemi ini adalah pariwisata dan penerbangan.
Strategi baru pemerintah untuk memberikan bantuan langsung tunai ini menjadi cara paling praktis dan cepat untuk mengurangi dana yang mandek. Tentu saja efek domino dari dana bantuan ini akan kembali menggerakkan ekonomi yang tersendat karena badai pandemi.
Terlepas dari kontroversi yang ada, pemberian santunan tunai ini memberikan angin segar untuk 13,8 juta karyawan yang akan menerimanya.
Dan sekali lagi, tak ada program yang sempurna, apalagi jumlah yang menerima bantuan hanyalah sebagian kecil dari warga negara. Potensi kecemburuan sosial bisa saja muncul.
Jika para karyawan saja menerima bantuan tunai, lalu bagaimana nasib mereka yang masih dalam proses mencari kerja misalnya. Bagi mereka, beratnya dampak pandemi lebih terasa, karena tak ada penghasilan sama sekali.
Kita hanya bisa menunggu apakah program yang telah direncanakan ini akan benar-benar berjalan, atau batal karena adanya penolakan. Namun apapun itu, upaya untuk mengembalikan perekonomian patut diapresiasi, dengan segala risikonya. (*)
• Atta Halilintar Ingin Menikah dengan Aurel Hermansyah di Tanggal Ini
• Wanita Ini Teriaki Ayahnya Maling saat Adu Mulut, Begini Ceritanya
• Luna Maya: Kang Sule Bisa Enak Ngomong Begitu, Aku Kan Enggak Ada
• Begini Awal Perkenalan Anji dengan Hadi Pranoto: Semua Sebut Prof
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/erwin-ardiansyah_20170822_072731.jpg)