Berita Jateng
Nasib Miris Tenaga Pendidik Daerah, 17 Tahun Mengabdi Cuma Digaji Rp 200 Ribu per Bulan
Gaji jauh di bawah ketentuan, namun dituntut berdedikasi maksimal untuk memberikan ilmu.
Penulis: budi susanto | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Gaji jauh di bawah ketentuan, namun dituntut berdedikasi maksimal untuk memberikan ilmu.
Hal itu menjadi potret tenaga pendidik honorer yang ada di sebagian daerah di Indonesia, tak terkecuali di Jateng.
Loyalitas untuk memenuhi hak pembelajaran para pelajar, dirasa kurang dihargai oleh negara.
• Viral Bocah Albino di Wonogiri Putri Kembar Kelahiran Rangkasbitung Banten Sering Diajak Selfie
• Bocah Kembar Albino Wonogiri Nadya dan Nadira Viral Bikin Gemes: Pas Lahir Rambutnya Putih
• Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, PNS Kota Semarang Meninggal dalam Kecelakaan di Jalan Sultan Agung
• BREAKING NEWS: Kecelakaan Maut di Jalan Sultan Agung Semarang 2 Truk 2 Motor, 1 Pemotor Meninggal
Bahkan tak jarang, belasan tahun mengajar tenaga pendidik honorer hanya menerima upah kurang dari Rp 500 ribu setiap bulannya.
Meski demikian, para pahlawan pendidikan tersebut terus berusaha menularkan ilmu ke pelajar semaksimal mungkin.
Atik Dyat Prastuti, satu di antara pengajar SDN 02 Cawet Pemalang, selama 17 tahun ia mengajar, Atik belum merasakan perubahan pada nasibnya.
Janji pemerintah untuk memperbaiki nasib pengajar, menurutnya juga tak terealisasikan hingga sekarang.
"Saya tidak bisa menjawab kalau ditanya bagaimana nasib guru honorer sekarang.
Karena dari dulu sampai sekarang masih sama," katanya, kepada Tribunjateng.com, melalui sambungan telpon, Jumat (4/9/2020).
Dikatakan Atik, belasan tahun mengajar ia hanya menerima gaji Rp 200 ribu setiap bulan, dan baru tahun ini dapat tambahan Rp 500 ribu.
"Dengan gaji kecil kami dituntut memberikan ilmu secara optimal.
Sebenarnya kami juga butuh kehidupan layak, namun semangat untuk menuntut jaminan masa depan kami sudah padam.
Karena hanya janji yang diberikan," jelasnya.
Dijelaskannya, kondisi guru honorer harusnya diperhatikan untuk meningkatkan mutu pendidikan.
"Sekarang pemerintah meminta lulusan luar negeri pulang ke tanah air untuk mengabdi, kalau kondisinya sama seperti kami saat ini, tak khayal banyak yang tidak mau mengabdi di dunia pendidikan," tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/elivina-guru-honorer.jpg)