Berita Semarang
Kisah Kampung Jagal di Kota Semarang, Kini Hanya Tersisa 4 Jagal
Aroma khas kambing tampak tercium dari sebuah gang sempit jalan MT Haryono (Mataram), Semarang.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Aroma khas kambing tampak tercium dari sebuah gang sempit jalan MT Haryono (Mataram), Semarang.
Bercampur aduk. Aroma tersebut ada khas daging kambing dan ada pula berbaur rempah yang menggugah selera makan pada siang itu.
Setelah menelisik lebih jauh di gang yang padat penduduk tersebut, tribunjateng.com mendapati salah satu rumah sumber aroma ini.
• Heboh Tawuran Perempuan di Bandarharjo Semarang, Polisi: Motifnya Masalah Cinta
• Ayahku Terlihat Bahagia dan Banyak Tersenyum, Tak Lama Kemudian Meninggal Kecelakaan
• BREAKING NEWS: 6 Kios di Jalan Kolonel Sugiono Semarang Terbakar
• Mahasiswa Kaya di Kampus Ini Diduga Bersaing Meniduri Mahasiswi Termiskin, Obrolannya Tersebar
Toni Wibisono (60) adalah pemiliknya.
Di belakang rumah yang berada di kampung Bustaman itu, Toni yang menyambut ramah lantas menunjukkan tempat pengelolaan kambing-kambing itu.
Tempat tersebut mulai penjagalan kambing, pemotongan, hingga penimbangan daging kambing.
"Kampung Bustaman ini juga terkenal sebagai kampung jagal, saya termasuk yang jadi jagal.
Jadi saya beli kambing kemudian kambing-kambing itu dipotong dan dipasarkan," ujar Toni, Rabu (16/9/2020).
Menurut Toni, julukan Kampung Bustaman sebagai kampung jagal tidak lepas dari tradisi jagal kambing di kampung tersebut.
Toni memperkirakan, dirinya merupakan generasi ketiga dalam meneruskan keahlian jagal kambing ini.
"Setahu saya generasi ketiga, yaitu dari kakek, kemudian bapak saya, kemudian saya.
Tapi sebelum kakek saya katanya sudah ada.
Cuma katanya juga, yang pertama memiliki tempat pemotongan kambing ini dulu adalah Pak Marzuki, lurah di kampung ini zaman dulu.
Dulu itu kambing tidak dinaikkan mobil, tapi digiring dari pasar.
Belinya jauh, kadang sampai dua hari untuk sampai sini," kenangnya.