Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ki Ageng Henis Leluhur Kerajaan Mataram Islam, Pencetus Batik Laweyan

Di Kota Solo, terdapat tokoh penyebar Islam sekaligus salah seorang yang punya andil besar berdirinya Kerajaan Mataram.

Penulis: Muhammad Sholekan | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Muhammad Sholekan
Makam Ki Ageng Henis (tengah). Terlihat seorang peziarah sedang berziarah di Makam Ki Ageng Henis di Laweyan, Solo. 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Di Kota Solo, terdapat tokoh penyebar Islam sekaligus salah satu orang yang punya andil besar berdirinya Kerajaan Mataram.

Tokoh tersebut adalah Ki Ageng Henis. Dia merupakan seorang mufti atau penasihat Kerajaan Pajang yang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya alias Joko Tingkir.

Makam Ki Ageng Henis berada di barat kompleks Masjid Laweyan yang berada di Kampung Belukan, Pajang, Laweyan, Solo.

Masjid dan kompleks pemakaman tersebut merupakan tanah pajimatan milik Keraton Kasunanan Surakarta.

Juru kunci makam, yang sekaligus Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta, Imam, menuturkan bahwa Ki Ageng Henis merupakan putra bungsu dari Ki Ageng Selo.

"Ki Ageng Henis itu leluhur Mataram. Hidup di era Pajang dan merupakan seorang mufti," ucapnya kepada Tribun Jateng, Rabu (14/10/2020).

Dia menuturkan, selain sebagai penasihat raja, Ki Ageng Henis juga merupakan seorang dai penyebar agama islam.

Atas jasanya itu, Ki Ageng Henis mendapatkan hadiah berupa tanah perdikan atau swatantra dari Sultan Hadiwijaya di daerah Laweyan.

"Jadi beliau menyebarkan agama Islam ya dari sini (Laweyan, red). Yaitu di Masjid Laweyan ini," terang Imam sembari menunjuk arah masjid.

Imam menuturkan, Masjid Laweyan ini merupakan tinggalan Kerajaan Pajang. Menurut penuturan Imam, sebelum difungsikan menjadi masjid, Masjid Laweyan dahulu merupakan sebuah pura.

"Pendeta pura itu bernama Ki Ageng Mbeluk. Itu makamnya juga di kompleks makam sini dekat tembok," ungkapnya.

Diperkirakan, pura tersebut sudah ada sebelum era Pajang. Menurut Imam, bisa dikatakan masa itu merupakan masa peralihan Hindu-Budha ke Islam.

Di kompleks pemakaman ini, selain Ki Ageng Henis terdapat juga Nyi Ageng Pandanaran yang merupakan istri dari Sultan Bayat Klaten.

Imam menuturkan, selain itu ada Nyi Ageng Pati, yang menurut cerita merupakan ibu dari Ki Ageng Penjawi.

Ada pula Nyi Ageng Saba yang merupakan ibu dari Ki Juru Mertani. Ketiganya, menurut Imam, merupakan kakak perempuan Ki Ageng Henis.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved