Berita Ungaran
Deasy Warga Ambarawa Sulap Plastik Jadi Barang Bernilai Ekonomi Tinggi
Deasy Esterina (30) warga Ambarawa mencoba menyulap plastik menjadi beragam model barang kerajinan.
Penulis: M Nafiul Haris | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Plastik selama ini dikenal sebagai sampah yang paling sulit terurai. Tidak jarang, limbah plastik menumpuk banyak ditemukan di banyak tempat. Resah melihat kondisi tersebut, Deasy Esterina (30) warga Jalan Jenderal Sudirman Nomor 43, Tanjungsari, Kupang, Ambarawa, Kabupaten Semarang mencoba menyulap plastik menjadi beragam model barang kerajinan.
Deasy mengatakan, ide awal membangun usaha dengan bahan dasar limbah plastik
bermula sekitar tahun 2014 silam. Ketika itu, dia yang masih menempuh studi strata satu (S-1) Jurusan Arsitektur Interior Universitas Ciputra Surabaya telah merintis bidang usaha kerajinan tangan dengan merk Kreskros.
“Kreskros sendiri merupakan perpaduan antara kresek (kantong plastik) dengan kros atau merajut. Saat itu Kreskros belum menjadi sebuah bisnis serius maupun socio-business, masih berupa hobi tetapi sudah ada namanya. Dimulai ketika kuliah saya gemar mencoba banyak hal seperti menggambar, belajar musik, bersepeda, tour, membaca, dan kerajinan tangan. Hingga seusai kuliah saya mencoba membuat karya yang dapat saya jual untuk biaya sehari-hari. Dan saya juga melihat ada tumpukan kantong plastik (kresek) tidak terpakai yang sering saya kumpulkan di kosan,” terangnya kepada Tribunjateng.com, Selasa (27/10/2020)
Menyadari memiliki keterbatasan dalam teknik merajut yang dikuasai, perempuan kelahiran Ambarawa 7 Desember 1990 tersebut terpikir membuat produk dengan bahan dasar unik sampailah pilihan menggunakan limbah plastik. Selain membuat rajutan berbeda dari rajutan benang lain pada umumnya, dia ingin membuat hal kecil untuk lingkungan.
Deasy mengaku, semasa awal mengembangkan Kreskros dalam proses pemasaran memanfaatkan media sosial pribadi. Adanya dukungan dari sejumlah teman dan saudara kemudian dia berpikir lebih serius dan kembali pulang ke kampong halaman di Ambarawa dan fokus menekuni usaha daur ulang sampah plastik tersebut.
“Di Ambarawa saya menemui kondisi ibu-ibu yang masih bisa dikembangkan. Diajak berkarya bersama dan mereka sendiri bisa mendapat pemasukan yang cukup untuk keluarga, sambil tetap dekat dengan keluarga mereka. Sedangkan, untuk limbah plastik sendiri saya mendapati masih banyak, baik dari limbah keluarga, limbah toko, pasar, maupun industry,” katanya
Pihaknya bercerita sekembalinya dari Kota Surabaya ke Ambarawa Jateng pada Oktober 2016 dirinya memulai kembali Kreskros dengan lebih serius sebagai socio-business. Sejumlah masalah diproses awal tidak bisa dihindari seperti permodalan yang tidak tetap karena di fase awal masih memakai pendapatan dari bekerja di tempat lain.
Tidak jarang, keuangan Kreskros mendapat untung sedikit bahkan sering nombok. Hingga kemudian, ketika order mulai banyak muncul masalah baru yakni terkait dengan SDM di mana perlu pelatihan dan pembinaan.
“Berhubungan antar manusia tidaklah mudah karena kita berurusan dengan ego masing-masing, pengertian dan pemikirannya masing-masing, pengalaman dan kebiasaannya masing-masing. Sehingga selain menjadi mentor dan kapten, saya juga menjadi teman mereka untuk berbagi dan berjuang bersama,” ujarnya
Meskipun demikian, sebagaimana kata pepatah proses tidak akan menghianati hasil sampai permasalahan manajemen mendelegasikan pekerjaan secara lebih efektif, membagi waktu antara bekerja di luar dan di dalam selesai beragam penghargaan seperti Good Design Indonesia, Asephi Emerging Award, Sustainable Business Award, dan Pengusaha Wanita Muda Pengolah Limbah Plastik dari Leprid telah diraih.
Deasy mengungkapkan modal memulai usaha daur ulang sampah plastik berasal dari tabungan pribadi sebesar Rp 10 juta ditambah hasil berjualan produk Kreskros semasa awal. Adapun produk yang sampai sekarang berhasil dibuat antara lain tas, pouches, backpack, totebag, slingbag, weistbag, pouch, purse, laptop bag, dan sebagainya.
“Untuk harga mulai Rp 100 ribu sampai Rp 2,4 juta. Strategi pemasaran semula hanya memakai media sosial pribadi kemudian saya kembangkan ke website www.kreskros.com. Kami juga melakukan pemasaran secara offline, misalnya dengan titip jual offline atau e commerce, mengikuti bazaar, atau mengisi beberapa talk dan workshop,” jelasnya
Sedangkan menyikapi mewabahnya pandemi virus Corona (Covid-19) dalam mengelola Kreskros sendiri dia memilih tetap tenang dan menjadikan waktu yang ada untuk berbenah. Membuat strategi ke depan sambil mengeksplorasi pengembangan selanjutnya. Terkait teknis penjualan kata dia, tetap pendekatan secara B2C dan B2B terutama pembeli satuan maupun souvenir event, instansi, pemerintahan, dan lain-lain.
Hingga sekarang, Kreskros telah mempekerjakan sekitar 15 orang yang seluruhnya adalah perempuan atau kalangan ibu rumah tangga terdiri dari 9 orang sebagai perajut, 2 penjahit, 1 quality control, 2 administrasi, dan 1 orang pada bagian pemotongan. Sekali belanja bahan baku diperlukan sekitar 1,5 ton limbah plastik sementara produksi barang perbulan mencapai sekitar 120 unit.
“Mohon maaf untuk omzet kami tidak bersedia menyebutkan. Tetapi kami menjamin material bahan pembuatan produk Kreskros berkualitas. Selain dapat membantu kampanye penyelamatan lingkungan, kami juga jamin konsumen tetap bisa bergaya dengan tas buatan tangan yang berbeda,” tandasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bersihkan-limbah-plastik2.jpg)