Berita Banyumas
Liburan Aman Ditemani Mas Basid, Jaga Wisatawan Melalui Transaksi Pembayaran Non Tunai
Rona suka cita hinggap di wajah Wanto (28) warga Banyumas yang dapat mengajak istri berlibur di Loka Wisata Baturaden.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: sujarwo
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Rona suka cita hinggap di wajah Wanto (28) warga Desa Adisara, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas yang dapat mengajak istrinya berlibur di Loka Wisata Baturraden.
Sudah sembilan bulan semenjak Pandemi Covid-19 rasa takut berwisata menghantuinya.
Maksud hati ingin berlibur, tapi sering muncul rasa cemas dan khawatir penularan virus Corona di tempat wisata. Disisi lain tidak dapat dipungkiri rutinitas kerja membuatnya jenuh dan bosan yang teramat sangat.
Libur panjang akhir Oktober memperingati Maulud Nabi dan cuti bersama menjadi hal yang sangat dinantikan keluarganya.
Perasaan Wanto dan istrinya sepertinya mewakili setiap orang yang berkeinginan berlibur tapi takut karena masih dalam masa pandemi.
Tanpa rasa takut dan khawatir lagi, Wanto ternyata kini ditemani Mas Basid untuk bisa berwisata di Baturraden, Banyumas. Dia mengaku merasa aman dan terbantu dengan si Mas Basid ini.
Ternyata yang dia maksud Mas Basid adalah sebuah aplikasi 'Banyumas Bebas Covid' sebuah gagasan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas sebagai upaya memfasilitasi pengunjung melakukan pendaftaran dan pembayaran wisata secara online.
"Kalau menggunakan aplikasi ini, segala macam transaksi dilakukan secara online.
Mulai dari pendaftaran, dan pembayaran dilakukan secara non tunai, sehingga meminimalisir bersentuhan dengan uang dan terpapar Covid-19," ucap Wanto kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (3/11/2020).
Aplikasi Mas Basid (Banyumas Bebas Covid) dapat diunduh di playstore. Ketika sudah mendaftar di Mas Basid, maka pengunjung dapat mendaftarkan diri secara online jika akan berwisata. Lalu membayar melalui transfer bank, OVO atau sistem pembayaran elektronik lain yang tersedia.
Diceritakan oleh Kepala Bidang E-Goverment, Dinas Komunikasi dan Informasi (Dinkominfo) Kabupaten Banyumas, Endah Sulistyawati jika ide awal pembuatan aplikasi Mas Basid adalah keinginan Bupati Achmad Husein untuk memantau Covid-19 di Banyumas.
Awalnya platform tersebut digunakan adalah untuk memantau penerapan protokol kesehatan di beberapa tempat seperti Masjid dan Pasar Modern.
Kemudian tantangan muncul ketika bupati memperbolehkan wisata dibuka dengan syarat transaksi pembayaran harus dilakukan secara non tunai.
"Kesulitannya adalah menyiapkan transaksi pembayaran non tunainya karena harus cashless.
Untuk menciptakan transaksi non tunai ini kita perlu melibatkan beberapa pihak seperti Kominfo, Bank Jateng dan Badan Keuangan Daerah," jelasnya.
Jika masih ada pengunjung wisata yang bingung dengan penggunaan Mas Basid, pihak pengelola menyediakan laku pandai untuk membantu memfasilitasi.
"Masyarakat tetap bisa datang ke lokasi nanti akan dibantu oleh laku pandai atau agen jadi bisa menjadi jembatan untuk pengunjung yang tidak tahu.
Pengelola tidak menerima uang cash, dan akan diganti dengan barcode," tambahnya.
Endah menceritakan jika dengan adanya pandemi Covid-19 ini justru menjadi momentum perubahan kebiasaan dari yang semula transaksi tunai menjadi non tunai.
"Ini ada hikmahnya jelas momentum sekali sehingga sistem kita jadi running transaksi non tunai di tempat wisata," katanya.
Pandemi ini juga memotivasi untuk menerapkan metode transaksi pembayaran non tunai pada sektor-sektor lain, seperti
penerimaan daerah yaitu retribusi dan pajak.
Pada aplikasi Mas Basid kuota pengunjung wisata dapat dibatasi dan di pantau secara online. Contohnya adalah kondisi saat ini, dimana kuota maksimal yang dapat masuk ke Loka Wisata Baturraden hanya 3.000 pengunjung saja.
"Jadi jika pengunjung yang masuk sudah 3.000 dan belum ada yang keluar maka akan di stop atau tutup," ujar Kepala UPT Baturraden, Kusmantono.
Menurut Kusmantono selama ini tidak ada kendala yang berarti melayani pengunjung wisata ditengah pandemi Covid-19. Tetapi memang masih banyak ketakutan berwisata dari para pengunjung karena akan menimbulkan klaster baru.
Sejak dibuka pada 22 Juli 2020 setidaknya sudah ada 2801 pengunduh yang mendaftarkan akunnya. Pada libur panjang mulai 28 sampai 31 Oktober 2020 total pengunjung ada sebanyak 8.594 orang.
"Melalui Mas Basid kita kontrol maksimal 3.000 rata-rata perhari berada di angka 2.000 wisatawan," pungkasnya.
Meski diakui karena pandemi ini pendapatan Loka wisata Baturraden yang mulanya ditarget bisa mencapai Rp 12 miliar kini diturunkan hanya menjadi Rp 3 miliar. Jam kunjungan juga dibatasi mulai dari pukul 08.00 WIB sampai 17.00 WIB. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pembayaran-non-tunai.jpg)