UNS Surakarta

Dosen UNS Solo Kembangkan Potensi Produksi dan Penjualan Kecap Khas Wonogiri

Meningkatnya jumlah produksi harus diiringi optimalisasi aktivitas pemasaran, sehingga kapasitas produksi yang dihasilkan saat ini dapat terserap

Editor: abduh imanulhaq
IST
Dosen UNS lintas fakultas menyelenggarakan program peningkatan kualitas dan kapasitas produk kecap manis khas Wonogiri merek BMS. 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Tim pengabdian masyarakat yang terdiri dari dosen UNS lintas fakultas menyelenggarakan program peningkatan kualitas dan kapasitas produk kecap manis khas Wonogiri merek BMS.

Mereka adalah Gusti Fauza, Ph.D dari Fakultas Pertanian, Catur Sugiarto, Ph.D dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dan Heru Sukanto, ST, MT dari Fakultas Teknik

Kegiatan ini berlangsung selama enam bulan dengan sasaran pada Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Desa Bulusari, Wonogiri.

Diperkirakan akan selesai pada pertengahan bulan Desember tahun ini.

Ketua Tim Pengabdian, Gusti Fauza, Ph.D mengatakan, tujuan program ini yaitu untuk meningkatkan kapasitas, proses produksi kecap agar menjadi lebih efisien dan kualitas semakin meningkat.

Fokus aktivitasnya pada introduksi dan aplikasi teknologi produksi kecap manis di Desa Bulusari, Wonogiri, Jawa Tengah.

Lebih spesifik lagi, pada kapasitas produksi dan konsistensi kualitas kecap.

“Permintaan kecap cukup tinggi, namun UKM memiliki keterbatasan produksi dalam memenuhi permintaan tersebut, UKM juga memiliki kendala dalam mengakses dan menerapkan teknologi yang efektif dan efisien serta aman” kata Gusti Fauza, Sabtu (28/11/2020).

Menurutnya, peran akademisi pada kesempatan ini sangat dibutuhkan dalam menghasilkan dan menerapkan teknologi tepat guna yang bermanfaat bagi UKM.

Peralatan saat ini sudah diterima oleh pihak mitra UKM, tahap uji coba telah dilakukan.

Terlihat perbedaan kecepatan produksi dan memungkinkan efisiensi didapatkan sampai dengan tahap pengemasan.

Kendala utama yang dihadapi UKM Kecap Manis di Wonogiri ini adalah pada sistem pengadukan yang masih manual.

Sementara waktu pemasakan cukup lama sehingga kapasitas produksi menjadi terbatas.

Selain itu, juga tingkat konsistensi rasa dan kekentalan kecap masih perlu dioptimalkan.

“Kami membuat sebuah mesin multifungsi terotomasi yang dapat membantu proses pengadukan sekaligus membantu proses produksi lainny. Tentu dengan bahan yang aman dan memenuhi standar kemanaan produksi,” imbuh Gusti Fauza.

Selain itu, beberapa peralatan yang digunakan perlu ditingkatkan, misalnya penggunaan alat berbahan stainless steel untuk menjaga kualitas dan keamanan hasil produksi.

Catur Sugiarto, salah satu tim bidang pemasaran mengatakan, program ini tidak hanya berfokus pada proses produksi, namun juga membantu UKM dalam peningkatan pemasaran.

“Meningkatnya jumlah produksi harus diiringi optimalisasi aktivitas pemasaran, sehingga kapasitas produksi yang dihasilkan saat ini dapat terserap pasar dengan baik,” ujarnya.

Pemasaran berfokus pada peningkatan citra merek (brand image) dan peningkatan penjualan dengan membantu mitra membangun website, optimalisasi penggunaan media sosial dan penjualan melalui marketplace. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved