Berita Video
Video Kisah Windy Anak Berkebutuhan Khusus Cita-Cita Ahli Agama
Suara merdu seorang remaja berusia 18tahun bersautan dengan deru kendaraan di Jalan Pantura Batang.
Penulis: budi susanto | Editor: abduh imanulhaq
Karena kekurangan biaya, Windy mengendurkan niat dan cita-citanya untuk menjadi ahli agama.
"Kalau mau sekolah atau mondok jauh saya tidak bisa, karena tidak ada biaya. Mungkin ke depan saya akan belajar musik saja," ujarnya sembari menenteng ukulele.
Harapan Windy menjadi ahli agama juga diutarakan oleh Sholikin, namun karena kendala ekonomi, Sholikin dan Windy hanya bisa pasrah.
"Kalau ada pondok yang dekat, atau sekolah tunanetra, yang mau memberikan Windy ilmu saya sangat berterimakasih. Sebagai orang tua saya berharap cita-citanya tercapai," jelasnya.
Sholikin menambahkan, Windy pernah menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, namun hingga kini tidak ada hasilnya.
"Pernah saya bawa ke Pekalongan, Batang hingga Semarang. Yang terakhir biayanya Rp 50 juta, bagi saya terlalu besar uang dengan jumlah itu. Hingga kini anak saya didiagnosa tak bisa sembuh, kata dokter karena bawaan lahir," imbuhnya.
Sholikin pun hanya bisa bertahan bersama Windy di tengah himpitan perekonomian dengan membuka warung kopi.
"Kami hanya bisa bersabar, ayah Windy juga terkena stroke, dan dirawat oleh saudara. Yang ada di warung ini hanya saya dan Windy," tambahnya. (bud)
TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE :