Focus
Tiga Agenda Penting
Satgas Penanganan Covid-19 Jepara mencatat sudah ada lebih dari 10 kasus klaster SMP.
TRIBUNJATENG.COM - "Tutup, wis ora usah kesuwen pokoke," kata Gubernur Ganjar Pranowo tegas. Ia menanggapi adanya puluhan pelajar SMP di Kabupaten Jepara yang terinfeksi Covid-19 setelah mengikuti pembelajaran tatap muka.
Selasa (1/12/2020), Satgas Penanganan Covid-19 Jepara mencatat sudah ada lebih dari 10 kasus klaster SMP. Menurut juru bicara Satgas, hasil itu ditemukan setelah melakukan swab kepada 156 orang di lingkungan SMP pekan sebelumnya.
Bukan hanya siswa, yang terdeteksi terkontaminasi Covid-19 juga guru dan pengurus sekolah. Sesuai prosedur, mereka kini menjalani isolasi untuk memutus rantai penularan.
Baca juga: Beredar Pesan Whatsapp Kota Solo Lockdown Setelah Pilkada 2020: Itu Wacana, Bahasa Kita Pembatasan
Baca juga: Pemakaman Habib Thohir Ulama Kota Tegal Diiringi Gema Kalimat Tauhid
Baca juga: Video 3 Pendaki Gunung Perahu Tersesat Selamat Dievakuasi
Klaster SMP menjadi perhatian karena pemerintah sudah mengumumkan untuk memperbolehkan pembelajaran tatap muka mulai Januari 2021, tentu saja dengan berbagai syarat dan ketentuan yang menyertai.
Diperbolehkannya pembelajaran tatap muka sudah melalui banyak pertimbangan. Tepatnya sudah sembilan bulan berlalu sejak pembelajaran jarak jauh diberlakukan, Maret 2020 lalu. Selain siswa yang sudah mengalami kejenuhan dan stres, ada dampak lain pembelajaran jarak jauh yang terlalu lama. Diantaranya ancaman putus sekolah karena banyak anak yang akhirnya membantu orang tua memenuhi kebutuhan hidup di tengah pandemi, dinikahkan hingga muncul kabar meningkatnya kekerasan rumah tangga.
Mau tak mau semua pihak harus ambil bagian agar lingkungan pendidikan tidak menjadi pusat baru penyebaran Korona. Sebelum Indonesia, banyak negara lain yang sudah lebih dulu melakukan pembelajaran tatap muka di tengah pandemi. Dan bahkan di negara maju sekali pun seperti Prancis dan Korea Selatan, kebijakan ini menyumbang peningkatan penyebaran Covid-19 yang signifikan.
Meskipun dengan aturan protokol kesehatan yang ketat, anak masih berpotensi melanggar. Karena itu sebelum kebijakan diterapkan, orangtua dan anggota keluarga dewasa diharapkan mulai memperkenalkan 3M, kebiasaan cuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak sejak dini kepada anak.
Persiapan sekolah juga harus maksimal jangan sampai baru dibuka, dalam waktu singkat sudah ditutup lagi karena ada siswa, guru atau pengurus sekolah yang positif Corona.
Pada akhirnya, kita harus hidup berdampingan dengan pandemi ini. Sebelum pembelajaran tatap muka, kita lebih dulu akan diuji oleh dua peristiwa yang juga punya potensi meningkatkan kasus positif Covid-19.
Dimulai pada 9 Desember mendatang yakni ada agenda Pilkada Serentak 2020 yang dikhawatirkan akan menimbulkan kerumunan. Selanjutnya libur natal dan akhir tahun. Seperti diketahui, pemerintah telah membatalkan cuti bersama 28-30 Desember. Namun peluang terjadinya kerumunan karena mudik dan kegiatan lain masih terbuka lebar mengingat waktu libur hanya terjeda tiga hari.
Kembali, kesadaran diri menjadi kunci utama. Lengah dan menyepelekan seolah menjadi kekuatan bagi Covid-19. Terbukti saat ini kasus positif terus meningkat. Berdasarkan data pemerintah pada Kamis (3/12), ada penambahan 8.369 kasus baru Covid-19. Ini merupakan rekor penambahan pasien Covid-19 tertinggi dalam sehari semasa pandemi.
Baca juga: Cerita Toha Takmir Masjid Dikejutkan Sosok Bayi Beserta Susu dan Popok di Atas Keset
Baca juga: 29 Karya Seni Mahasiswa Unnes Dipamerkan
Mari senantiasa waspada, kompak dan disiplin menjalankan protokol kesehatan agar cobaan bernama korona ini bisa dilewati. (Penulis: Muslimah, wartawan Tribun Jateng)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-para-siswa-belajar-di-sekolah.jpg)