Jumat, 10 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Mom N Kid

Kreatif Bercerita agar Anak Tak Bosan Ikut Pembelajaran Daring

Keterbatasan belajar jarak jauh menuntut para guru untuk kreatif. Semua itu dilakukan agar materi dan ilmu yang disampaikan mengena.

Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG
Anggi bersama dua buah hatinya, Jalenka Nailah Shaqilla dan Jahsy Villanova Arundati menyimak dongeng melalui gadget mereka. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Adanya Pandemi Covid-19 membuat proses pembelajaran, mulai dari jenjang PAUD sampai perguruan tinggi dilaksanakan secara daring. Tentu tak sedikit guru kebingungan. Apalagi bagi para guru PAUD atau TK yang lebih membutuhkan banyak cerita, simulasi, dan contoh ilustrasi dalam proses mengajar.

Keterbatasan belajar jarak jauh saat ini memang menuntut para guru untuk kreatif. Semua itu dilakukan agar materi dan ilmu yang disampaikan mengena ke para murid. Berbagai cara harus dilakukan. Seperti salah satunya diupayakan oleh seorang guru TK bernama Ahmad Ubaidillah. 

Ubay, panggilannya, bilang apabila awalnya cukup terkendala dengan proses mengajar secara daring ini. Sebab, ia tidak bisa maksimal dalam bercerita, berdongeng, maupun memperagakan sesuatu kepada para murid. Namun, hal itu tentu tak terus diratapi oleh guru KB-TK Islam Sultan Agung 2 Semarang ini.

Bagi Ubay, hal pertama yang wajib dilakukan adalah saling mengenal terlebih dahulu antara guru dengan murid. Maka dari itu, awal pandemi lalu, Ubay telah melakukan kunjungan ke masing-masing rumah muridnya. Tahun ini, kebetulan Ubay memiliki sembilan murid.

"Harus saling kenal dulu sama semua murid yang kita ajar. Murid wajib kenal kita dan tahu kita seperti apa. Biar ke depannya si murid saat belajar daring tidak canggung dengan kita. Saya datang ke rumah mereka tentu izin dulu ke orangtuanya. Orangtua murid pun harus kenal dengan saya," ungkap laki-laki berusia 37 tahun itu.

Awalnya, Ubay memang hendak melakukan pembelajaran dengan datang ke tiap rumah muridnya. Namun karena adanya kebijakan dari pemerintah untuk belajar tanpa tatap muka, Ubay terpaksa memulai memberi materi secara daring. Ia mengajari murid-muridnya melalui sambungan video call pada aplikasi Zoom.

Warga Semarang Timur, Kota Semarang ini tidak mengundang semua muridnya untuk ikut dalam satu sambungan video call. Ia ingin mengajari muridnya satu per satu. Lewat media ini, intensitas Ubay dalam memberikan cerita dan dongeng pun tidak surut. Ia pun tetap memberikan permainan meski tidak bertatap muka secara langsung.

"Mengajari murid TK itu kekuatannya ada di dongeng dan cerita. Maka dari itu, saya pilih mengajari muridnya satu-satu. Tiap murid punya jadwal video call. Supaya ga membosankan, saya harus bisa mensimulasikan cerita dengan alat bantu lain. Misalkan pakai boneka. Biar mereka tertarik dan menyimak," jelasnya.

Dalam mengajar, Ubay selalu meminta agar murid didampingi oleh orangtua ataupun wali terdekat. Hal itu dilakukan supaya murid dapat fokus dan terbimbing mengikuti semua materi yang disampaikan Ubay. Tiap harinya, Ubay harus melakukan hal ini ke tiga muridnya secara bergantian. Besok harinya, tiga murid lainnya mendapat jatah serupa dengan Ubay.

"Ini sudah saya lakukan berbulan-bulan. Sebenarnya sedih juga ga bisa ketemu mereka secara langsung. Sebab, kalau lewat daring, kita sebagai guru tidak bisa memahami karakter dan potensi masing-masing murid. Untuk melakukan permainan pun sangat terbatas. Semoga saja bisa segara belajar tatap muka lagi," harap pria kelahiran Demak ini.

Sementara, tak jauh berbeda dilakukan juga oleh Hani Hawari. Guru di salah satu TK swasta ini juga mengajari murid-muridnya lewat video call. Namun, ia melakukan itu secara berkelompok. Hal itu dilakukan supaya masing-masing murid saling mengenal. Ibu berusia 50 tahun ini tak butuh waktu lama dalam mengajar.

"Karena banyak murid yang mengalami masalah jaringan. Ini memang tantangan dalam belajar daring. Maka dari itu, saya sering mempersilahkan murid-murid saya untuk belajar langsung ke rumah saya. Jadi, kayak les gitu tapi sangat terbatas. Paling tiap pertemuan ada 3-4 murid yang ikut," pungkas warga Gajahmungkur, Kota Semarang ini. (*)  

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved