Breaking News:

3 Bank Syariah BUMN Tanda Tangani Akta Penggabungan

Penandatanganan CMA alias akta penggabungan merupakan langkah awal ketiga bank melangsungkan legal merger.

Editor: Vito
ANTARA FOTO/DHEMAS REVIYANTO
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo (kedua kiri), didampingi Ketua Project Management Office Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah Hery Gunardi (kiri), Direktur Utama PT Bank BRIsyariah Tbk Ngatari (kedua kanan), dan Direktur Utama PT Bank BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo (kanan), menyampaikan keterangan pers usai penandatanganan akta penggabungan tiga bank syariah milik Himbara di Jakarta, Rabu (16/12). Penandatanganan akta penggabungan itu merupakan bagian dari proses merger tiga bank syariah milik Himbara. 

JAKARTA, TRIBUN - Bank-bank syariah pelat merah yang tengah melangsungkan proses merger (penggabungan), yakni BRISyariah, BNI Syariah, dan Bank Mandiri Syariah, telah menandatangani Conditional Merger Aggreement (CMA) pada Rabu (16/12).

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, penandatanganan CMA alias akta penggabungan merupakan langkah awal ketiga bank melangsungkan legal merger.

"Tentunya kami besyukur bahwa pada hari ini (kemarin-Red) tiga bank merger melakukan penandatanganan akta penggabungan, di mana ini adalah langkah awal untuk legal merger, yang sedianya akan terjadi pada Februari 2021," katanya, dalam konferensi virtual, Rabu (16/12).

Penandatanganan tersebut dilakukan usai BRISyariah melangsungkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Selasa (15/12).

Satu agenda dalam RUPSLB adalah meminta persetujuan pemegang saham BRI Syariah, selaku bank yang menerima penggabungan (surviving entity). Begitu pun menyetujui kepengurusan dalam bank hasil merger, PT Bank Syariah Indonesia Tbk.

"Dari sisi cita-cita, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki penduduk muslim yang besar, tentunya ingin memiliki ekosistem syariah yang kuat dan sehat. Ekosistem yang mampu menjadi pemain syariah global dan berperan dalam konteks syariah nasional," ungkap Tiko, sapaan Kartika Wirjoatmodjo.

Tiko menuturkan, bank syariah hasil penggabungan itu mempunyai rencana global. Satu rencananya adalah mengincar pendanaan dari sukuk global.

Pasalnya, Indonesia masih membutuhkan pendanaan untuk membangun infrastruktur.

Hal itu menyusul belum terlalu banyaknya pendanaan menggunakan produk syariah yang cocok untuk pembangunan infrastruktur.

"Sukuk pasar global ini merupakan pasar yang bisa kita tuju untuk melakukan pendanaan. Pas untuk pembiayaan jalan tol, pembangkit listrik, dan lain-lain," ucapnya.

Sebagai informasi, bank hasil penggabungan akan memiliki aset mencapai Rp 214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp 20,4 triliun.

Jumlah aset dan modal inti itu menempatkan bank hasil penggabungan dalam daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset, dan top 10 bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar dalam 5 tahun ke depan.

Bank hasil penggabungan akan tetap berstatus sebagai perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan ticker code BRIS.

Komposisi pemegang saham pada bank hasil penggabungan adalah Bank Mandiri sebesar 51,2 persen, BNI sebesar 25 persen, BRI sebesar 17,4 persen, DPLK BRI - Saham Syariah sebesar 2 persen, dan publik 4,4 persen.

Struktur pemegang saham tersebut adalah berdasarkan perhitungan valuasi dari masing-masing bank peserta penggabungan. (Kompas.com/Fika Nurul Ulya)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved