Berita Sragen
Jelang Nataru, Disperindag Sragen Pastikan Stok Gas Aman
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sragen pastikan pasokan gas menjelang natal dan tahun baru (nataru) aman
Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sragen pastikan pasokan gas menjelang natal dan tahun baru (nataru) aman.
Salah satu faktor tercukupinya bahkan melebihi pasokan gas di Sragen adalah tidak digunakannya lagi gas 3 kg dalam bahan bakar diesel di kalangan petani.
Saat ini, para petani lebih memilih menggunakan sumur Sibel untuk mengaliri sawah mereka dengan aliran listrik sebagai sumber tenaganya.
"Pasokan gas tidak kurang cenderung aman, karena ini para petani sekarang cenderung memakai sumur Sibel. Akhirnya itu berdampak kepada gas 3 kg tidak digunakan lagi," kata Kepala Disperindag Sragen Tedi Rosanto.
Penggunaan sumur Sibel di area persawahan dikatakan Tedi berdampak pada kebutuhan gas 3 kg yang cukup, namun disisi lain adanya listrik di area pertanian tidak diperbolehkan.
Meskipun bantuan alat pertanian yang diserahkan kini sudah beserta gas yang artinya legal, petani memilih Sibel yang dinilai lebih efektif.
"Ya memang bantuan pertanian sudah beserta gas, namun petani lebih cenderung pake Sibel. Mungkin sedotan airnya lebih kencang dan tidak bolak-balik ganti gas 3 kg jadi cukup efektif bagi para petani," katanya.
Tidak Ada Pengurangan Kuota
Kendati di are persawahan kini tidak menggunakan gas 3 kg, Tedi memastikan tidak ada pengurangan kuota.
Terkait kuota, setiap tahun memang ada penambahan kuota. Tambahan tersebut disesuaikan dengan permintaan yang diajukan setiap daerah.
"Tambahan setiap tahun pasti ada, seperti pupuk itu juga. Karena kita minta, tapi tidak banyak. Jangan sampai stok di gudang habis, sebelum habis kami menyurati terlebih dahulu," katanya.
Tedi menuturkan pihaknya terus memantau stok yang ada di tiga gudang di Sragen yakni di Jetak, Gemolong dan Sambungmacan.
Peruntukkannya, gas tiga kilogram memang untuk masyarakat KK miskin, namun Tedi menyampaikan kejadian di lapangan sangat berbeda dengan kebijakan di awal.
"Peruntukan sebenarnya untuk KK miskin gas 3 kg, tapi dalam prakteknya kita tidak bisa. Melihat kenyataan mau tidak mau seperti itu, jika kita tegaskan mesti akan berdampak," katanya.
Dia melanjutkan dengan wacana peralihan diluncurkannya gas 5 kg berwarna pink, diharapkan sebagai solusi yang paling mujarab yang dibuat oleh Pertamina selaku pemilik gas.
Jika Pertamina nantinya telah membuat kebijakan dan sudah diwajibkan, Tedi mengaku pihaknya siap untuk melaksanakan.
"Untuk yang tidak miskin menggunakan 5 kg itu kalo diwajibkan kami siap, tapi kalau belum ada diwajibkan ya belum. Kita menjalankan kebijakan pusat, apapun kebijakan yang kita harus backup," tandasnya. (uti)