Rabu, 27 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Sido Laras Semarang Hidupkan Kesenian Gamelan Jawa di Batas Kota

Bermodal swadaya, sekelompok warga di Jabungan, Banyumanik mendirikan Kelompok Gamelan Jawa Sido Laras.

Tayang:
Penulis: iwan Arifianto | Editor: sujarwo
Istimewa
Kelompok Gamelan Jawa Sido Laras asal Jabungan, Banyumanik, Kota Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bermodal swadaya melalui iuran ditambah bahan bakar semangat nguri-nguri budaya, sekelompok warga di Jabungan, Banyumanik, Kota Semarang mendirikan Kelompok Gamelan Jawa Sido Laras.

Meski berada di daerah pinggiran Kota Semarang yang berbatasan langsung dengan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, tak menyurutkan para warga untuk eksis bermain gamelan Jawa. 

Kelompok tersebut beranggotakan 25 orang yang intensif berlatih musik gamelan.  "Kami dulu iuran untuk beli alat gamelan.

Tujuannya karena musik jawa bagian dari kebahagian dan identitas kami sebagai orang jawa," kata pelatih kelompok Sido Laras, Sudarno (67) saat dihubungi Tribunjateng.com, Rabu (6/1/2021).

Menurutnya, semangat bermain musik gamelan kelompoknya sudah berlangsung lama. Hanya saja belum terwadahi. 

Namum mulai tahun 2016, kelompok tersebut mulai merealisasikan keinginannya.  Mereka membeli peralatan gamelan Jawa dari Wonogiri, Jateng.

Dua tahun kemudian, kelompok tersebut sudah terdaftar di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang.

"Kami sebelum pandemi rutin latihan setiap Selasa dan Sabtu. Hasil latihan biasanya disalurkan melalui penampilan di  acara hajatan kampung maupun acara Agustusan," ujarnya.

Darno menjelaskan, semangat kelompoknya untuk bermain gamelan lantaran prihatin terhadap fenomena di masyarakat yakni orang jawa namun tak mengenal kesenian jawa. 

Seni Jawa kian waktu makin ditinggalkan.  Musababnya, orang Jawa itu sendiri tak mau tahu atau acuh. 

Fenomena tersebut diperkuat semakin semaraknya di tengah masyarakat yang lebih memilih dangdutan daripada pertunjukan kesenian jawa. 

"Masyarakat banyak yang lebih memilih hiburan Campursari atau dangdut.  Menampilkan pertunjukan gamelan setiap hajatan bukan satu pilihan. Padahal secara finansial gamelan jauh di bawah biaya sewa campur sari dan dangdutan. Ini bukan menyoal materi, namun dukungan semangat memperkenalkan budaya Jawa ke generasi muda," terangnya. 

Sebaliknya, kata dia, masyarakat di luar negeri ternyata banyak yang berminat untuk mendalami kesenian Jawa di antaranya musik gamelan.

"Kami ingin mengajak generasi muda khususnya di Kampung kami untuk kembali ke basic yakni mengenal budaya Jawa melalui gamelan," terangnya. 

Diakuinya, peminat musik gamelan di wilayahnya memang masih kurang.  Mayoritas peminat musik gamelan  hanya para orangtua yang sudah di atas kepala empat.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved