Ngopi Pagi
FOKUS: AS Mestinya Tengok Indonesia Agar Happy Ending
Di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda, dunia dihebohkan aksi kericuhan massa merangsek Gedung Capitol Washington DC Amerika Serikat.
Penulis: m nur huda | Editor: M Syofri Kurniawan
Tajuk Ditulis Oleh Jurnalis Tribun Jateng, M Nur Huda
TRIBUNJATENG.COM - Di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda, dunia dihebohkan aksi kericuhan massa merangsek Gedung Capitol Washington DC Amerika Serikat.
Aksi demonstrasi pada Rabu (6/1/2021) di Amerika membuat mata dunia terkejut. Kantor Kongres diserbu dan diduduki ribuan massa pendukung Donald Trump yang rusuh menolak sertifikasi kemenangan Joe Biden hasil Pilpres AS 2020.
Wakil Presiden AS, Mike Pence, mengatakan kejadian hari itu sebagai "hari yang kelam dalam sejarah Capitol Amerika Serikat".
Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana (Kompas.com: 7/1/2021), memandang kerusuhan itu disebabkan Trump tak terima atas kekalahan di Pilpres.
Bila Trump mau legawa dan tidak membuka peluang gejolak emosi pendukungnya maka peristiwa buruk ini dapat terhindarkan. Sebaliknya, Trump justeru terus menggelorakan narasi penolakan.
Insiden di Gedung Capitol ini akan menjadi catatan buruk di Negara yang mengklaim sebagai ‘champion of democracy dan the guardian of democracy’. Sejarah akan mengukirnya sebagai bagian dari potret negara yang mencoreng simbol demokrasi di abad ini.
Sejarahwan dari US Capitol Historical Society menyebut, serbuan ke Gedung Capitol adalah yang pertama sejak abad ke-19. Pada Agustus 1814, terjadi pembakaran Gedung Capitol namun bukan karena dampak proses demokrasi melainkan serangan pasukan Inggris.
Kepala Program Studi Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Shofwan Al-Banna menilai kerusuhan ini adalah cara Trump menjaga narasi bahwa Pemilu dicurangi.
Menurut Shofwan, tujuan Trump sesungguhnya bukan membatalkan hasil pemilu. Tapi, merawat konstituennya yang tentu saja kecewa kalau ia menyerah. Bila Trump masih masih tak mau menyerah, akan muncul kekacauan di sistem pemerintahan AS, publik akan terbelah.
Adapun, hasil Pilpres AS 2020 dimenangkan Joe Biden-Kamala Harris dengan 306 suara electoral college. Sementara Donald Trump-Mike Pence mendapat 232 suara.
Dari kekacauan di negeri Pak Trump ini, kita jadi teringat catatan peristiwa dalam negeri pasca-Pilpres 2019. Saat itu, Capres Prabowo Subianto mengklaim kemenangan bahkan melakukan sujud syukur. Pihaknya menyebut terjadi kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masif.
Bedanya, saat itu Prabowo mengimbau para pendukungnya untuk tetap tenang, tidak terprovokasi melakukan kekerasan dalam bentuk apapun. Sikap kearifan lokal warga Indonesia dari sosok Prabowo perlu diapresiasi.
Pada proses berikutnya, sang juara Joko Widodo merangkul semua rivalnya masuk kabinet bekerjasama membangun bangsa. Prabowo menjadi Menteri Pertahanan, terbaru Sandiaga Uno menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Kali ini, AS kalah satu langkah dengan Indonesia dalam persoalan menyelesaikan masalah dalam dirinya sendiri. Rekonsiliasi demi menjaga mertabat bangsa mesti diutamakan. Tak ada gunanya mengedepankan ego mengorbankan harga diri dan orang banyak hanya demi sebuah pengakuan kehormatan.
Meminjam ungkapan dari Mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko dalam sebuah wawancara pada Kamis (22/10/2015) lalu, “Yen Ono Rembug, Ya Dirembug”. Berembug menyelesaikan persoalan agar kedepannya menjadi Happy Ending.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/wartawan-tribun-jateng-mukhamad-nur-huda.jpg)