Berita Sragen
Waspada Teror Ular! Bulan Januari Jadi Masa Ular Bertelur dan Menetas
Bulan Januari diprediksi reptil ular akan berkembangbiak. Sehingga kewaspadaan masyarakat harus ditingkatkan.
Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Bulan Januari diprediksi reptil ular akan berkembangbiak.
Sehingga kewaspadaan masyarakat harus ditingkatkan.
Hal itu disampaikan Kepala BPBD Kabupaten Sragen, Sugeng Priyono ketika ditemui Tribunjateng.com di ruang kerjanya.
Baca juga: Viral Beredar Pesan Whatsapp WA Karyawan Nasi Goreng di Mall Solo Terpapar Corona, Ini Kata Veronica
Baca juga: Ribuan Ikan Terdampar di Baubau, Pertanda Gempa Besar? Terjadi di Cilacap Sebelum Gempa Majene
Baca juga: Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun, Kompol Dani Kapolsek Semarang Meninggal Sempat Terpapar Corona
Baca juga: AKP Juwardi Kapolsek Manisrenggo Klaten Meninggal, Pemakaman Prokes Covid-19 di Bantul
"Musim bertelur dan menetas ular Januari ini, sehingga kewaspadaan masyarakat untuk ditingkatkan bulan ini," kata Sugeng.
Dia menghimbau kepada masyarakat untuk tidak mencoba-coba untuk memegang ular sendiri, jika reptil tersebut memasuki pekarangan rumah bahkan masuk rumah.
Menangkap ular bisa menggunakan sapu lidi untuk menghalau kemudian bisa ditutup dengan menggunakan ember.
Kendati demikian Sugeng mengatakan harus sabar dan memiliki keahlian.
"Tapi sekali lagi itu tidak bisa disampaikan secara bahasa, harus praktek karena resiko tinggi, harus sabar dan memiliki keahlian.
Saya menghimbau tetap lebih baik menghubungi kami, nanti kita sampaikan ke teman-teman relawan," terangnya.
Sugeng mengaku sebelum adanya Pandemi Covid-19, para relawan melalui BPBD melakukan simulasi atau praktek langsung cara menangkap ular dengan teknik yang benar.
Namun semenjak Pandemi, pihaknya hanya berkoordinasi dengan para komunitas reptil atau komunitas ular di Sragen untuk membantu mengatasi masalah ini di masyarakat.
Jika sudah berhasil menangkap ular, Sugeng mengatakan pihaknya tidak akan membunuh ular tersebut, namun dikembalikan ke habitat yang memungkinkan.
Selain kemungkinan serangan ular, Sugeng mengatakan juga meminta masyarakat untuk mewaspadai sarang tawon.
Mengingat evaluasi sarang tawon pada 2020 terbanyak dibandingkan kejadian lainnya.
Setidaknya ada 54 laporan dan evakuasi sarang tawon di 2020 dan kejadian terbanyak terjadi pad bulan Januari 2020 dengan jumlah evaluasi sebanyak 24.
"Sarang tawon kalau di BPBD yang bergerak itu adakah teman-teman relawan, karena sarang tawon ini kalau kami mau evakuasi dalam tugas binatang buas seperti harimau dan kera sebelum ada tawon dan ular," katanya.
Bahkan sarang tawon ini telah memakan satu korban di 2021 di Kecamatan Gemolong.
Sugeng melanjutkan banyak yang masuk rumah sakit, namun yang meninggal dunia ada penyakit bawaan dan korban sudah tua.
Berbeda dengan ular yang diprediksi bertelur bulan ini, serangan tawon bisa terjadi kapan saja.
Sugeng menyebut perkembangan tawon vespa ini, empat tahun kebelakang.
"Tawon tidak bisa diprediksikan kapan bulannya, tapi kalau ular bisa masuk kategori lain-lain karena bukan tupoksi kami.
Selain itu resiko sangat tinggi, tapi kami tetap peduli sehingga jika ada relawan yang ahli di bidang ular ataupun tawon akan kita rekrut," katanya.
Terkait evakuasi sarang tawon, Sugeng mengaku tetap adanya observasi di lapangan. Karena memperhatikan ekosistem.
Apabila sarang tawon berada 15 meter dari tanah dan jauh dari pemukiman tidak perlu di evakuasi, namun jika ada jalan dan dekat dengan rumah akan dilakukan evaluasi. (uti)