Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

SBY Soroti Kondisi Amerika Pasca Pilpres 2020: Banyak Luka dan Kebencian

Susilo Bambang Yudoyono (SBY) membeberkan kondisi demokrasi di Amerika Serikat seusai Pilpres 2020. Hal itu SBY tulis di akun Facebooknya

Penulis: Ardianti WS | Editor: abduh imanulhaq
ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK A
SBY Soroti Kondisi Amerika Pasca Pilpres 2020: Banyak Luka dan Kebencian 

TRIBUNJATENG.COM- Susilo Bambang Yudoyono (SBY) membeberkan kondisi demokrasi di Amerika Serikat seusai Pilpres 2020.

Hal itu SBY tulis di akun Facebooknya pada Rabu (20/1/2021).

SBY mengatakan banyak pembelajaran penting yang bisa diambil hikmah terkait kondisi politik di Amerika saat ini.

Presiden ke-6 itu mengatakan di era post truth saat ini, ucapan seorang pemimpin negara harus jujur, jika tidak maka akan terjadi dampak yang sangat besar.

SBY mencontohkan tindakan Trump yang mnegaku dicurangi saat pilres yang berakibat menyulut kemarahan pendukungnya.

"Bagi para pencinta demokrasi, drama politik di Amerika Serikat saat ini dapat dipetik pelajarannya. Pertama, sistem demokrasi tidaklah sempurna, terutama implementasinya. Ada wajah baik & wajah buruk dalam demokrasi. Namun, tidak berarti sistem otoritarian & oligarki lebih baik.

Kedua, di era "post-truth politics", ucapan pemimpin (presiden) harus benar & jujur. Kalau tidak, dampaknya sangat besar. Ucapan Trump bahwa pilpresnya curang (suaranya dicuri) timbulkan kemarahan besar pendukungnya. Terjadilah serbuan ke Capitol Hill yang coreng nama baik Amerika Serikat," tulis SBY di catatan Facebook miliknya.

SBY menegaskan di era post truth, pemimpin tidak boleh melakukan kebohongan secara sistematis karena bisa berdampak pada hilannya kepercayaan dari rakyatnya.

"Ketiga, "post-truth politics" (politik yang tidak berlandaskan pada fakta), termasuk kebohongan yang sistematis & berulang, pada akhirnya akan gagal. Pemimpin akan kehilangan "trust" dari rakyatnya, karena mereka bisa bedakan mana yang benar (faktual) dengan yang bohong (tidak faktual)," tulisnya.

SBY mengatakan sebaiknya kandidat yang kalah saat pemilihan umum harus menerima kekalahan dengan lapang dada.

"Keempat, tiap pemilu ada yang menang, ada yang kalah. Meskipun berat & menyakitkan, siapapun yang kalah wajib terima kekalahan & ucapkan selamat kepada yang menang. Itulah tradisi politik & norma demokrasi yang baik. Sayangnya, sebagai champions of democracy, ini tidak terjadi di AS sekarang," tulisnya.

SBY mengatakan, pergantian presiden di Amerika tidak berlanjung damai.

Kondisi di Amerika saat ini banyak kebencian dan permusuhan.

"Kelima, kali ini pergantian kekuasaan yang damai (smooth & peaceful) tak terjadi di AS. Transisi kekuasaan dibarengi luka, kebencian & permusuhan. Ini petaka bagi AS yang politiknya terbelah (deeply divided). Energi Biden bisa habis untuk satukan AS hadapi tantangan ke depan.

Keenam, jelang pelantikan Biden, Washington DC mencekam, banyak barikade & dalam pengamanan ketat 25.000 tentara. Siapa ancamannya ? Kali ini bukan musuh dari luar, seperti biasanya, tapi "teroris domestik". Ini titik gelap dalam sejarah AS. Juga warisan buruk yang ditinggalkan Trump," tulisnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved