Breaking News:

FOKUS

Cukup Yakin Saja dengan Pancasila

Ketika seluruh komponen memegang teguh Pancasila, yakinlah berbagai rintangan dapat teratasi.

Grafis:Tribunjateng/Dok
Tajuk Ditulis Oleh Jurnalis Tribun Jateng, M Nur Huda 

Tajuk Ditulis Oleh Jurnalis Tribun Jateng, M Nur Huda

TRIBUNJATENG.COM - Publik dihebohkan munculnya kontroversi ungkapan peramal bahwa di tahun 2021 akan ada pelengseran Presiden. Sebelum itu akan terjadi kerusuhan hingga penjarahan yang suasananya kacau.
Meski ramalan tersebut diralat oleh yang bersangkutan setelah dikecam, dan kemudian ramalan diganti menjadi ada reshuffle kabinet.

Bagi yang percaya ramalan, ini tentu berdampak pada pengakumulasian energi negatif yang perlahan akan mengaitkan dan mengamini setiap peristiwa sebagai permulaan.

Dampaknya tak main-main, akan menimbulkan rasa pesimisme di tengah masyarakat hingga ke berbagai sektor kehidupan berbangsa.

Di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia telah berdampak pada bidang ekonomi hingga mencapai tahapan terpuruk.

Berbagai upaya telah dilakukan mulai ikhtiar dzohir dengan melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya, hingga ikhtiar batin. Para tokoh berbagai agama juga tak henti menggelar doa bersama agar Tuhan YME secepatnya mencabut wabah ini dari muka bumi.

Cahaya terang sedikit terlihat ketika vaksin Covid-19 ditemukan yang kini mulai didistribusikan. Rasa optimisme itu mulai muncul.

Ketika nantinya Indonesia mampu keluar dari lingkaran Covid-19 ini, bukan perkara mudah untuk bangkit dari keterpurukan. Perlu langkah recovery fundamental pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Siapapun pemimpinnya, tak mudah mencari dana segar untuk menggerakan roda perekonomian di tengah keterpurukan ekonomi dunia. Keputusan yang diambil seorang pemimpin negara tentu akan memiliki peluang dan risiko.

Sebelum pandemi, Indonesia juga diramal bakal menjadi negara maju di tahun 2050 oleh konsultan ekonomi internasional, Pricewaterhouse Coopers (PwC). Indonesia berpotensi menjadi Raksasa Ekonomi Terbesar ke-4 Dunia, setelah China, India dan Amerika Serikat.

Ramalan ini sudah tentu membuat banyak negara di dunia iri. Ada yang mencoba ‘sok kenal, sok dekat’, ada yang mengintip dan mencuri keunggulannya.

Yang paling berbahaya adalah pihak yang takut Indonesia berjaya karena dirasa membahayakan kepentingannya. Sehingga berbagai cara dilakukan mulai dengan mendelegitimasi ‘trust’ Indonesia di kancah dunia, baik dari luar maupun dalam negeri.

Sementara, Indonesia sebagai negara demokrasi masih dipahami warganya sebagai kebebasan berbicara, mencaci maki, saling menyalahkan, jauh dari suasana bersatu bekerja bergandeng tangan menuju Indonesia maju, sehingga ramalan PwC akan sulit terwujud.

Tapi kita patut bersyukur memiliki Pancasila. Jimat 5 Sila ini nampaknya harus terus ditenteng. Ketika seluruh komponen memegang teguh Pancasila, yakinlah berbagai rintangan dapat teratasi. Rumusnya jelas, setiap ada masalah dikerjakan sendiri akan sulit diselesaikan, ketika dikerjakan bergotongroyong pasti akan tuntas mudah.
Maka, perlu penguatan pembinaan Ideologi Pancasila (PIP) guna mempersempit pembelahan di masyarakat. PIP harus menjadi arus politik utama untuk memperkokoh persatuan serta penguatan ideologi bangsa.

Dengan demikian, ramalan buruk akan berubah optimisme, ramalan baik semoga lebih cepat terlaksana guna menuju ‘Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur’, tercipta sebuah negara dengan kehidupan masyarakat yang damai, tenteram, aman, segala kebutuhan hidupnya terpenuhi, dan negara yang siap sedia mengurusi segenap urusan rakyatnya. (M Nur Huda, Wartawan Tribun Jateng)

Penulis: m nur huda
Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved