Breaking News:

OJK Catat Jumlah Investor Pasar Modal Melonjak 4 Juta di Tengah Pandemi

Penambahan jumlah investor sepanjang 2020 mencapai 4 juta. Jumlah itupun merupakan yang terbesar sepanjang sejarah.

KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat terjadinya lonjakan jumlah investor ritel di pasar modal di tengah pandemi virus corona.

Hal itu diungkapkan Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso. Menurut dia, fenomena tersebut terjadi hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Di negara ini, penambahan jumlah investor sepanjang 2020 mencapai 4 juta. Jumlah itupun merupakan yang terbesar sepanjang sejarah.

"Ruang konsumsi belum pulih seperti semula, jadi incomenya bisa dialternatifkan di pasar modal, adalah kesempatan yang baik di pasar modal. Sehingga banyak investor ritel, masyarakat, apalagi didukung teknologi maju, akses ke pasar modal tanpa terkecuali di Indonesia," katanya, dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) secara virtual, Senin (1/2).

Wimboh menuturkan, untuk menjaga gairah kinerja pasar modal tersebut, perlu dilakukan percepatan pengembangan supply dari sisi produk pasar modal.

Baru-baru ini telah diluncurkan security crowd funding (SCF) atau penawaran efek melalui layanan urun dana berbasis teknologi.

Menurut dia, SCF bisa menjadi alternatif bagi kaum muda yang ingin mengembangkan usaha mereka. "Potensinya bisa mencapai Rp 74 triliun di seluruh Indonesia. Demand masyarakat yang tinggi harus diimbangi dengan supply," ujarnya.

Hal penting lain yang dinilai harus diperhatikan di tengah lonjakan jumlah investor yakni edukasi. Sebab, dia menambahkan, produk di pasar modal bersifat volatile atau bergejolak.

Sehingga, alih-alih mengandalkan analisis teknikal untuk memilih sebuah produk investasi, masyarakat perlu melakukan proses analisis fundamental. 

Hal itu mengingat produk pasar modal bisa mengalami koreksi pada waktu-waktu yang tidak terduga.

"Bila sudah paham pilihannya, terserah ke investor, dan jangan sampai bila terkoreksi kaget dan menimbulkan masalah di masyarakat," tukas Wimboh.

Ia pun mengaku sudah melakukan kerja sama dengan pemangku kepentingan mengenai mekanisme transaksi di pasar modal, mengajak SRO untuk edukasi bersama ke masyarakat, dan mendorong supply yang cukup, sehingga nanti tidak terlalu beda besar supply dan demand-nya. (Kompas.com/Mutia Fauzia)

Editor: Vito
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved