Tribun Jateng Hari Ini
Perry Yakin Rupiah Menguat Bertahap usai BI Rate Naik
Kenaikan BI Rate dan penguatan instrumen SRBI akan mendukung masuknya aliran modal asing, sehingga menopang stabilitas rupiah.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19-20 Mei 2026.
Selain BI-Rate, bank sentral juga menaikkan suku bunga deposit facility 50 bps di level 4,25 persen dari sebelumnya 3,75 persen, serta lending facility naik 50 bps menjadi 6 persen dari sebelumnya 5,5 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kenaikan itu ditempuh sebagai langkah strategis untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di timur tengah.
Selain itu, hal itu juga sebagai langkah preventif untuk menjaga inflasi pada 2026-2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah.
“Kami tegaskan, dalam perumusan respons kebijakan, termasuk kenaikan BI Rate, kami betul-betul mempertimbangkan secara masak dan terukur untuk menjaga stabilitas dan ketahanan eksternal di tengah gejolak global dengan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi,” bebernya.
Ia menegaskan, kenaikan BI Rate dan penguatan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) akan mendukung masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, sehingga menopang stabilitas rupiah.
“Kami meyakini dengan penguatan BI Rate ini akan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Rupiah akan stabil di bulan Juni, dan cenderung menguat pada Juli dan Agustus,” jelasnya.
Adapun, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (20/5), menguat ke posisi Rp 17.650,45, naik 52 poin atau 0,29 persen dari hari sebelumnya Rp 17.705,5 per dolar AS.
Perry menuturkan, pelemahan rupiah selama ini lebih dipengaruhi faktor eksternal dan tekanan musiman permintaan valas domestik.
Ia berujar, tekanan global masih besar akibat perang di Timur Tengah, tingginya harga minyak dunia, perlambatan ekonomi global, kenaikan inflasi global, hingga kebijakan suku bunga ketat di AS yang membuat dolar AS menguat dan yield US Treasury meningkat.
Dia menambahkan, permintaan valas domestik juga meningkat pada April hingga Juni karena kebutuhan ibadah haji dan umrah, pembayaran bunga dan pokok utang luar negeri, serta pembagian dividen perusahaan.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI telah meningkatkan intervensi di pasar valas, baik di pasar domestik maupun offshore melalui instrumen non-delivery forward (NDF), meski berdampak pada penurunan cadangan devisa.
Di saat bersamaan, BI juga menaikkan suku bunga SRBI dalam 2 bulan terakhir untuk menarik aliran modal asing masuk ke pasar domestik.
Perry mengeklaim kebijakan itu mulai membuahkan hasil. Menurutnya, arus modal asing yang sebelumnya keluar kini mulai berbalik menjadi inflow dan membantu menjaga stabilitas rupiah.
“Kami meyakini inflow akan tetap besar ke dalam negeri dan mencukupi kebutuhan permintaan valas di bulan Juni yang masih cukup besar,” ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-uang-rupiah-Rp-50000-dan-Rp-100000.jpg)