Senin, 27 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Tim Dosen Kebidanan Unissula Latih Kader Posyandu Tentang Pelayanan di Masa Pandemi

Tim dosen Unissula Semarang mengadakan pengabdian masyarakat di Batursari, Mranggen, Demak.

Penulis: m zaenal arifin | Editor: sujarwo
Istimewa
Tim dosen Unissula Semarang latih para bidan dalam kegiatan pengabdian masyarakat di Batursari, Mranggen, Demak, kemarin. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tim dosen Departemen Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana Prodi Sarjana dan Profesi Bidan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang mengadakan pengabdian masyarakat di Batursari, Mranggen, Demak.

Mereka adalah Friska Realita, Is Susiloningtyas dan Meilia Rahmawati. Tema yang diangkat yakni pelayanan Posyandu di masa pandemi Covid-19 dan diikuti para bidan dan kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

Ketua tim dosen, Friska Realita mengatakan, peran Posyandu sebagai garda paling depan di tingkat RW sangat penting. Jika Posyandu tidak melakukan pelayanan saat wabah, ibu bisa memantau tumbuh kembang anak secara mandiri dengan panduan buku KIA. Selain itu juga dapat melakukan temu janji terlebih dahulu dengan Bidan dan Kader Posyandu.

"Posyandu sebagai garda terdepan wadah pelayanan kesehatan dasar masyarakat membantu sosialisasi dan edukasi Covid-19 bersama petugas medis dan Satgas Siaga Covid-19. Pendidikan kesehatan pun bisa langsung ke sasaran yaitu warga setempat," ungkapnya, dalam keterangannya, Senin (1/2/2021).

Ia menjelaskan tujuan dari pengabdian masyarakat ini yaitu agar kader siap dalam melaksanakan pelayanan Posyandu di masa pandemi dengan aturan yang sudah ditentukan dari Kementrian Kesehatan RI.

Adapun aturan yang dilakukan pelaksanaan Posyandu beroperasi diserahkan kepada kebijakan pemerintah daerah. Izin dilaksanakan Posyandu dengan syarat wilayah tersebut berada pada zona hijau.

"Saat zona merah Posyandu bisa berhenti terlebih dahulu menunggu wilayah berzona hijau kembali. Kader posyandu sehat dan memakai sarung tangan, meja tidak berdekatan atau dengan jarak satu meter dan disediakan tempat cuci tangan serta cairan pembersih tangan," tuturnya.

Saat pelaksanaan Posyandu, lanjutnya, orang tua bayi atau balita membawa kain atau sarung tangan sendiri untuk penimbangan. Kemudian, mengatur jadwal layanan maksimal 10 orang di area pelayanan.

"Anak yang sudah disuntik menunggu diluar atau tempat terbuka sekitar 30 menit sebelum pulang. Pemberian PMT dengan protokol ketat makanan dibungkus plastik rapat dan tidak diperbolehkan untuk makan di tempat," tambahnya.

Materi lain yang disampaikan pada para kader yaitu cara pelaksanaan sistem lima meja dalam Posyandu. Pengukuran antropometri bayi dan balita mengenai cara menimbang bayi, mengukur tinggi badan bayi, mengukur lingkar kepala, mengukur lingkar lengan atas, memasukkan catatan ke Kartu Menuju Sehat (KMS), serta menginterpretasikan data dalam KMS.

"Kader posyandu diharapkan mampu menguasai seluruh pengukuran tersebut karena hal tersebut juga menjadi tahap awal deteksi dini adanya stunting pada bayi dan balita," harapnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved