Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Sistem Pengendalian Banjir di Jateng Belum Mampu Imbangi Curah Hujan

Tidak hanya Kota Semarang, beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah juga terendam banjir parah.

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Mamdukh Adi Priyanto
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Tata Ruang (Pusdataru) Provinsi Jawa Tengah, Eko Yunianto 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tidak hanya Kota Semarang, beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah juga terendam banjir parah. Misalnya, Kota Pekalongan, Kudus, Demak, Kendal, dan Pati yang umumnya berada di pesisir atau pantai utara Jawa.

Banjir yang mulai terjadi pada Sabtu (6/2/2021) pekan lalu itu bisa disebut sebagai puncak dibandingkan kejadian banjir sebelumnya.

Pada November dan Desember 2020, wilayah selatan Jawa Tengah, contohnya Kebumen dan Cilacap sudah terlebih dulu dilanda banjir besar.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Tata Ruang (Pusdataru) Provinsi Jawa Tengah, Eko Yunianto, menuturkan sistem pengendalian banjir sebetulnya sudah bagus, hanya saja belum mampu mengimbangi curah hujan.

"Daerah dengan topografi mendekati pantai ini mengakibatkan air susah mencari gravitasi sehingga mengisi cekungan. Ketika sistem drainase sudah ditata, sistem pompa dikombinasikan dengan polder menjadi pengendali banjir. Di dalam Kota Semarang (banjir) sudah berkurang karena pompa sudah baik, tinggal yang di Puri Anjasmoro dan sisi timur, kami pompa terus," kata Eko dalam webinar terkait penanganan banjir di Jateng, Selasa (9/2/2021).

Yang belum beruntung, kata dia, Kota Pekalongan dimana sistem pengendalian banjirnya masih ditata atau masih pembangunan infrastruktur.

Menurutnya, membangun sistem banjir rob memerlukan sumber daya anggaran yang tidak kecil. Sehingga, relatif banjir di Pekalongan cukup dalam hingga 80 sentimeter seperti yang terjadi di daerah sekitar Pantai Slamaran.

Meskipun demikian, lanjutnya, sistem pompa dan polder bukan satu-satunya upaya pengendalian banjir. Pengendalian banjir harus dilakukan dengan sejumlah upaya kumulatif.

Sistem pengairan merupakan satu organisasi atau rantai operasi dari hulu ke hilir yang harus dikendalikan. Dan yang terpenting, bagaimana menata dan mengelolanya.

Contoh kecilnya yakni bagaimana masyarakat tidak membuang sampah sembarangan ke sungai yang berpotensi mengganggu daerah aliran sungai.

"Membuang sampah sembarangan secara tidak sadar memberikan kontribusi performance sungai. Ini yang harus dipahami bersama," jelasnya.

Kemudian bagaimana tata cara penggunaan lahan di hulu. Sedimentasi juga mempengaruhi kapasitas alur sungai.

Masalah yang lain yakni daerah retensi yang menjadi 'area parkir' sementara air yang membutuhkan banyak lahan.

Namun, cara yang paling efektif dan jangka panjang yakni menanam pohon terutama di daerah hulu.

Ke depan, Eko mengatakan yang perlu dibenahi yakni manajemen pengelolaan dengan sistem yang sudah terbangun.

Di sisi lain, pihaknya tidak semata-mata menyalahkan curah hujan tinggi sebagai biang kerok timbulnya banjir.

"Ini faktanya, ada hujan dengan intensitas sekian dan kapasitas pompa sekian tapi belum mampu. Pengelolaan pengendalian banjir seperti pompa lebih dioptimalkan," imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved