Breaking News:

Jawa Tengah

Sektor Pertanian Jadi Andalan saat Pandemi, Ganjar Siapkan Tegal Jadi Sentra Bawang Putih

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat pertumbuhan ekonomi provinsi ini secara kumulatif pada 2020 menurun hingga minus 2,65 persen.

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: rival al manaf
ISTIMEWA
Bawang putih lokal 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG- Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat pertumbuhan ekonomi provinsi ini secara kumulatif pada 2020 menurun hingga minus 2,65 persen.

Meskipun demikian, ada sektor yang masih bertahan bahkan unggul saat pandemi ini. Antara lain di sektor teknologi komunikasi dan informasi serta pertanian.

"Karena produksi pertanian tinggi sehingga terwujudnya kemandirian pangan."

"Dengan peningkatan produktiitas pangan, terwujud distribusi lancar, stablilitas pangan serta lumbung cadangan pangan."

Baca juga: Survei Elektabilitas Ganjar Pranowo Masih Tertinggi, Disusul Anies Baswedan, Puan Maharani

Baca juga: Ganjar Kaget Prie GS Meninggal, Masih Ingat Guyonan Sampeyan Itu Ndak Cocok Jadi Gubernur

Baca juga: Bupati Temanggung Al Khadziq Berterima Kasih Kepada Ganjar Pranowo Soal Jateng di Rumah Saja

"Lalu peningkatan diversifikasi pangan berbasis sumber daya pangan lokal, optimalisasi pemanfaatan pekarangan sehingga meningkatkan NTP (nilai tukar petani)," kata Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam webinar terkait perekonomian, Jumat (12/2/2021).

Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan nasional yang selama ini masih didatangkan dari luar negeri atau impor, Ganjar bertekad menjadikan Kabupaten Tegal sebagai sentra bawang putih di Jateng.

Gubernur dua periode ini menyampaikan telah bertemu Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam mengembangkan Tegal menjadi sentra tanamam umbi-umbian tersebut.

"Saya sudah bertemu Rektor IPB dan menyampaikan Kabupaten Tegal bakal dijadikan center of excelece bawang putih," jelasnya.

Dengan adanya sentra pertanian bawang putih, ia mengklaim produktivitas bawang putih secara nasional bisa ditingkatkan hingga 300 persen. Saat ini, kata dia, produksi dalam negeri baru bisa mencapai 80 ribu ton, sedangkan kebutuhannya bisa mencapai 450 ribu ton.

Dengan begitu, pemerintah bisa menurunkan angka impor secara signifikan dengan mengandalkan dari dalam negeri.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved