Breaking News:

Dalang Muda Ki Haryo Lanjutkan Perjuangan Ki Enthus Susmono

Dalang Muda Ki Haryo Lanjutkan Perjuangan Ki Enthus Susmono. Suara dan gaya membawakan tokoh wayang golek mirip dalang kondang yang juga bupati Tegal

tribunjateng/mahasiswa UIN Magang
Suara dan gaya membawakan tokoh wayang golek mirip dalang kondang yang juga bupati Tegal, Almarhum Ki Enthus Susmono. Dialah Firman Haryo Susilo (27) yang punya nama panggung Ki Haryo Enthus Susmono. 

TRIBUNJATENG.COM, TEGAL - Suara dan gaya membawakan tokoh wayang golek mirip dalang kondang yang juga bupati Tegal, Almarhum Ki Enthus Susmono. Dialah Firman Haryo Susilo (27) yang punya nama panggung Ki Haryo Enthus Susmono.

Ki Haryo demikian biasa disapa, mengikuti jejak ayah kandungnya. Dia tekuni dunia perdalangan terutama wayang golek sebagai sarana berdakwah dan menghibur masyarakat, sebagaimana dulu ditekankan Ki Enthus, dalang kondang sekaligus nyentrik.

Tiap kali akan memulai mendalang, Ki Haryo mengirim doa bacaan Alfatihah untuk almarhum sang ayahanda. Sinden-sinden kru yang mengiringi sang dalang berusia 27 tahun ini pun mengenakan pakaian seragam dan berjilbab.

Ki Haryo menyebut wayangnya sebagai wayang santri, sarana bekerja dan beribadah. Sejak kelas 6 SD hingga kelas 3 SMP Ki Haryo mendalang ikut sang ayah.

"Saya ndalang pertama kali itu kelas enam SD sampai kelas tiga SMP, itu saya agak rutin untuk latihan dan pentas," kata Ki Haryo kepada Asri Laori Wulandari mahasiswa UIN Walisongo magang jurnalistik di Tribunjateng.com, Senin 8 Februari kemarin.

Dia bercerita, pernah suatu ketika pas kelas 3 SMP mengikuti kegiatan sekolah yaitu ekstrakurikuler. Pada jam yang sama ada perintah Ki Enthus untuk ikut latihan mendalang. Sang ayah yang dikenal sangat disiplin dan profesional kemudian memarahi Ki Haryo anaknya. Gara-gara jadwal latihan mendalang tapi tidak hadir.

"Pas saya sibuk ekstrakurikuler di sekolah, Abah Enthus sudah kumpulkan teman-teman untuk latihan mendalang. Saya nggak datang. Abah marah," terang Ki Haryo. Sejak itu Ki Haryo berhenti mendalang karena trauma.

Seiring berjalannya waktu, Ki Haryo melanjutkan sekolah dan kuliah di UMS Solo tanpa menyentuh dunia perwayangan. Setelah lulus kuliah, Ki Haryo memilih berbisnis buka Warteg di Solo. Berselang lima bulan warteg-nya tutup.

Dan Ki Enthus menyuruh Ki Haryo pulang ke Tegal mengurus manajemen wayangnya. Hal itu dilakukannya. Namun diam-diam Ki Haryo melamar kerja di Pertamina dan diterima. "Saya sempat kerja di Pertamina. Tapi kemudian Abah menyuruh saya pulang untuk mengurus Pilkada Abah," tutur Dalang Muda ini.

"Saya mendampingi Abah di akhir-akhir hayat. Saya diajak ketemu para kiai, dalang senior dan guru-guru Abah di dunia perwayangan. Dalam perjalanan kampanye Abah meninggal dunia," kata Haryo.

Setelah Ki Enthus meninggal dunia, Kyai Mahfud Kholiq guru spiritualnya Ki Enthus memberi nasihat kepada Ki Haryo. "Haryo, kalau kamu tidak melanjutkan Abah ndalang nanti amal jariyah yang berpuluh-puluh tahun Abah tanam terputus," tutur Ki Haryo menirukan.

Dari nasihat kiai itulah akhirnya Ki Haryo tergugah hatinya mulai mendalang lagi. Dia mengaku bisa mendalang semalam suntuk sejak dua tahun silam. Bisa menjadi dalang wayang golek klasik, awalnya ia melewati beberapa proses. Diantaranya ngaji budaya, ngaji diiringi orgen, wayang santri dan terakhir wayang golek klasik.

"Pertama saya hanya ngaji budaya pakai wayang dan ceramah. Kemudian ngaji budaya diiringi orgen, kendang, biola tanpa gamelan itu berjalan sekitar satu tahun. Kemudian setelah satu tahun berlalu saya berani pakai gamelan, wayang santri waktu itu. Kalau wayang santri selesai ndalangnya sampai jam satu, dan di tahun kedua saya sudah berani ndalang satu malam suntuk untuk wayang golek klasik," terang Ki Haryo Enthus Susmono. (Asri Laori Wulandari mahasiswa UIN Walisongo magang jurnalistik di Tribunjateng.com)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved