Breaking News:

Ada Omah Alas di Gunungpati Ternyata Untuk Kegiatan Ini

Omah Alas merupakan sebuah sanggar seni di Desa Kandri Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Sebuah tempat untuk mengembangkan kesenian Jawa.

tribunjateng/mahasiswa UIN Magang
OMAH ALAS - Sanggar Seni Omah Alas di desa Kandri kecamatan Gunungpati Kota Semarang, Rabu (17/2/2021) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berbagai kesenian dikembangkan di Omah Alas sebagai upaya melestarikan dan memperkenalkan kebudayaan Jawa kepada generasi penerus. Omah Alas merupakan sebuah sanggar seni di Desa Kandri Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Sebuah tempat untuk mengembangkan berbagai kesenian, khususnya kesenian Jawa.

Berbagai macam seni ada di tempat ini, yaitu seni peran, seni tari, seni lukis, seni musik, seni dekorasi, dan olah limbah. Omah Alas bekerja sama dengan Unnes dalam proses latihannya.

Omah Alas dibentuk tahun 2009 oleh para pegiat dan pecinta seni. Sanggar seni ini berdiri di atas tanah keluarga dan dikelola oleh Wakhid, Imron, beserta saudara-saudaranya.

Nama "Omah Alas" memilili filosofi. Karena letaknya di hutan dimana berbagai makhluk hidup ada di dalamnya. Maka memungkinkan untuk saling berinteraksi. Oleh karena itu, siapapun yang datang ke tempat tersebut adalah saudara tidak memandang latar belakang atau apapun.

Sanggar seni Omah Alas memberikan tempat kepada siapapun yang ingin mendalami seni. Selain itu, tempat ini juga sering digunakan untuk pelatihan seni, outbond, rangkaian acara AISEC, juga sebagai tempat perkumpulan orang-orang yang menggemari seni. Anggota dari Komunitas Seni Semarang juga kerap berkunjung.

"Siapapun boleh datang ke sini, dan begitu masuk gerbang berarti mereka adalah saudara kami. Kami menyambut baik siapapun yang ingin belajar seni di sini," ucap Wakhid kepada Avita Nur Hamida mahasiswa UIN Walisongo magang Jurnalistik di Tribunjateng.com, Rabu (17/2/2021).

Wakhid mengaku begitu prihatin ketika melihat generasi muda yang justru lebih banyak mengonsumsi budaya luar dan mengesampingkan budaya lokal yang harusnya dilestarikan. Dan melalui Omah Alas, Wakhid dan kawan-kawannya bertekad untuk selalu berusaha memperkenalkan budaya Indonesia khususnya budaya Jawa kepada generasi muda. Diawali dari pemuda-pemudi sekitar Desa Kandri.

Sanggar Seni Omah Alas di desa Kandri kecamatan Gunungpati
Sanggar Seni Omah Alas di desa Kandri kecamatan Gunungpati (tribunjateng/mahasiswa UIN Magang)

"Kita bikin event, semacam pentas dan pameran. Dan dari situ, pasti ada yang tertarik dengan seni," ungkap Wakhid.

Omah Alas sering mengisi berbagai acara, seperti acara di Balaikota, acara penyambutan tamu di Kecamatan, maupun acara rutin nyadran kali atau merti desa. Selain itu juga pernah dimandati untuk menjadi tim dekorasi Provinsi Papua ketika lomba di Kedung Batu.

Wakhid enggan menyebut ini sebagai pekerjaan karena memang orientasinya bukan untuk mencari uang. "Orang-orang di sini itu datang mencari ketenangan, kenyamanan, karena seni itu menyenangkan. Dan saya berharap, dengan adanya tempat ini budaya jawa dapat selalu dikenal dan tidak pernah hilang," terangnya. (Tribunjateng/wid)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved