Breaking News:

Badriah Konsisten Membuat Batik Tegalan Bangjo dan Irengan

Badriah (54) warga Desa Bengle, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal sudah sejak lama membuat batik, khususnya Batik Tegalan.

Editor: iswidodo
tribunjateng/mahasiswa UIN Magang
Warga sedang membuat Batik Tegalan di Desa Bengle, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal 

TRIBUNJATENG.COM, TEGAL - Badriah (54) warga Desa Bengle, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal sudah sejak lama membuat batik, khususnya Batik Tegalan. Dia menekuni Batik Tegalan karena sudah turun temurun batik corak bangjo (abang ijo) dan irengan itu menjadi andalan.

Dia adalah pengrajin batik rumahan. Usaha yang ditekuni ini sudah turun temurun. "Dulu orangtua saya juga pembatik," kata Badriah kepada Asri Laori Wulandari mahasiswa UIN Walisongo magang Jurnalistik di Tribunjateng.com, Senin 8 Februari lalu.

Badriah menuturkan, awal mula membatik adalah untuk memenuhi pesanan pengantin saja. Setelah membatik kain untuk pengantin lama-lama banyak peminat. Hingga kemudian Badriah mempunyai toko sendiri.

"Awal mula dijadikan toko batik itu sejak Bupati Agus Riyanto, kira-kira 20 tahun lalu menginstruksikan para pegawai untuk pakai Batik Tegalan. Sejak muncul Perda itu akhirnya kita mulai melakukan pengembangan motif," kata Badriah mengenang.

Batik yang dibuat Badriah adalah batik Tegalan. Ia menjelaskan batik Tegalan mempunyai banyak motif, akan tetapi yang khas batik Tegalan itu dari pewarnaannya yaitu warna bangjo (merah hujau) dan irengan (hitam).

"Motifnya ada banyak, ada batik fajar sidik, ambringan, wewepan dan lain sebagainya. Cuma khas Tegal yang klasik itu dua macam, bisa dilihat dari warna, yaitu bangjo dan irengan," terangnya.

"Kalau dari segi pelatarannya ada beras mawur, bajing, cecek kaweh, ukelan, kekandilan, jamuran, dan banyak lainnya," sambungnya.

Batik Tegalan itu ada yang tulis dan cap. Proses pembuatannya pun tidak semudah dan secepat yang dibayangkan. "Proses pembuatan batik itu pertama dipola, kedua perapihan, ketiga pewarnaan tahap satu, keempat dicolek atau dikunci, kelima dilorot atau diwarnai lagi, dan yang terakhir dijemur," jelas Badriah.

Badriah menyebutkan kisaran haga batik yang ia produksi. "Batik cap paling murah Rp 90 ribu sampai Rp 125 ribu, kalau batik tulis paling murah Rp 150 ribu sampai Rp 700 ribu," bebernya.

Dia berharap anak muda zaman sekarang turut serta melestarikan batik asli Indonesia. Minimal bersedia dan suka memakai pakaian batik. (Tribunjateng/wid)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved