Breaking News:

Titis Pamudji Bermusik dan Tekuni Pembuatan Alat Musik Keroncong

Meski tidak bersekolah di bidang kesenian namun Titis Pamudji terkenal sebagai pemain musik keroncong. Bahkan dia hingga kini juga masih produksi

tribunjateng/mahasiswa UIN Magang
Titis (57) warga Kelurahan Candi, Kecamatan Candisari, Kota Semarang musisi sekaligus pembuat alat musik keroncong 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Meski tidak bersekolah di bidang kesenian namun Titis Pamudji terkenal sebagai pemain musik keroncong. Bahkan dia hingga kini juga masih produksi peralatan musik keroncong.

Titis (57) warga Kelurahan Candi, Kecamatan Candisari, Kota Semarang ini hingga kini masih melayani pesanan untuk pembuatan alat musik keconcong. Jarang manggung karena sedang pandemi. Kalaupun tampil hanya secara virtual.

Titis menceritakan, dirinya sudah menggeluti dunia kesenian keroncong sejak tahun 1987. Memiliki darah seni dari orang tua dan kegigihannya untuk belajar, membuat Titis cepat mahir. Sehingga saat itu ia kerap tampil di berbagai acara di Kota Semarang.

"Tahun 86, saya merasa tergugah karena melihat anak-anak muda pada waktu itu. Saya merasa terpanggil untuk bermain musik keroncong," terangnya kepada Nabila Monika mahasiswa UIN Walisongo magang Jurnalistik di Tribunjateng.com, Jumat (5/2/2021).

Dirinya memang menyukai musik keroncong, walaupun tidak memiliki latar belakang akademik di bidang seni. Namun hal itu tidak membuatnya patah semangat. Dia makin getol belajar secara otodidak.

"Latar belakang saya adalah elektronika, karena saya alumni STM 01 Semarang. Tapi karena ada darah seni dari bapak, membuat saya cepat menyesuaikan diri," terangnya.

Adapun alat musik yang pertama kali dimainkannya ialah cuk (kentrung atau dalam istilah lain disebut ukulele) yang terbuat dari senar tenis (senur).

Dia juga menceritakan bahwa, puluhan tahun lalu ia pernah bekerja sebagai karyawan di PLN distribusi Jawa Tengah dan mempunyai grup bernama Gema Elektrika yang sering menjuarai lomba keroncong se-Jawa Tengah.

"Dulu di PLN distribusi Jawa Tengah itu merekrut para pemain musik keroncong sebagai karyawan, dari situ punya grup keroncong namanya Gema Elektrika. Kami sering ikut lomba keroncong Jawa Tengah dan mendapat juara satu," beber Titis.

Saat ini di usia 57 tahun dirinya masih aktif main keroncong. Dia juga dipercaya sebagai pelatih musisi keroncong. Namun, karena terkendala pandemi untuk sementara sepi job terkecuali acara tersebut virtual.

Tahun 2018 lalu, ia tertarik untuk mencoba membuat alat-alat musik keroncong. Pria kelahiran Semarang itu menjelaskan, alat musik keroncong terdiri dari cak (serang/kencrang), cuk (kentrung/ukulele), dan cello. “Alat musik keroncong ada tiga, yaitu serang, kentrung, dan cello. Cara memainkannya itu dipetik atau bisa digesek,” terangnya.

Waktu pembuatannya bermacam-macam, tergantung dari alat keroncong yang dipesan. Misal cuk itu membutuhkan waktu 3 hari. Adapun ia pernah mendapat pesanan yakni bass betot yang memakan waktu pembuatan sekitar satu bulan. Semua itu dikerjakannya sendiri menggunakan peralatan tradisional.

Harga karyanya pun bervariasi, tergantung alat keroncong yang dipesan. Misal cuk sekitar Rp 500 ribu, ia juga pernah mendapat pesanan bass betot seharga Rp 6 juta. Untuk memasarkan alat-alat keroncong buatannya itu, ia memilih menggunakan secara online melalui facebook. "Pernah mendapat pesanan dari Riau dan Kalimantan. Yang terjauh ya Kalimantan itu," tuturnya.

Selain bisa membuat alat musik keroncong, Titis juga bisa mengetahui fals dan tidak fals-nya suatu alat musik keroncong buatannya sehingga para pelanggan yang telah memesan alat musik tersebut tidak pernah kecewa dengan hasil karyanya. (Tribunjateng/wid)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved