Breaking News:

Widya Bangga Aksesoris Batik Buatannya Tembus Pasar Internasional

Widya (49) warga Kota Semarang ini cermat dalam melihat peluang pasar dan selera konsumen. Dia bikin pernak pernik aksesoris barbahan batik

tribunjateng/mahasiswa UIN Magang
Widya (49) warga Kota Semarang ini cermat dalam melihat peluang pasar dan selera konsumen. Dia bikin pernak pernik aksesoris barbahan batik 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Widya (49) warga Kota Semarang ini cermat dalam melihat peluang pasar dan selera konsumen. Selain menjual batik kerajinan karya dia sendiri, juga membuat berbagai aksesoris dengan bahan utama batik.

Widya mengkreasikan kain batik menjadi aneka aksesoris yang disukai konsumen antara lain bando, kalung, sandal, masker, jepit rambut, dompet dan tas. Dengan bahan utama batik, dia menyulapnya menjadi pernak-pernik yang cantik.

Selain dipasarkan di Kota Semarang dan memasok berbagai model aksesoris di banyak galeri, Widya juga memenuhi pesanan konsumen di dalam maupun luar negeri. Iya, dia pasarkan hasil karyanya itu juga melalui media sosial. Sehingga jangkauan konsumen lebih luas, tak hanya di Jawa Tengah namun di Indonesia bahkan dunia.

Baru-baru ini Wisdya juga memenuhi pesanan orang di Dubai dan Australia. Walau hanya beberapa yang terjual, Widya mengaku bangga.

"Ada rasa bangga tersendiri waktu ada pembeli dari luar negeri. Hasil karya sendiri bisa sampai keluar negeri dan juga melalui hal ini budaya batik Indonesia dapat lebih dikenal warga asing," kata Widya kepada Sheila Tanjaya Ratnasari, mahasiswa UIN Walisongo magang Jurnalistik di Tribunjateng.com, Minggu (14/2/2021).

Diakuinya, kesukaan kepada batik sudah sejak SMA. Bahkan dulu saat sekolah dia bikin sompet dari kain dan kertas karton pun laku dijual. Kemudian saat tahun 2010 batik sedang booming di Semarang maka dia pun mendalami seluk beluk batik.

Kini Widya jual produk buatannya di galeri batiknya, disetorkan ke galeri di Kota Semarang dan dipromosikan melalui media sosial.

Selain itu, Widya juga rajin ikut pameran saat sebelum pandemi sehingga aksesoris berbahan utama batik hasil karyanya diminati banyak konsumen. Untuk melestarikan batik, Widya juga buka pelatihan membatik di galerinya di Krapyak Semarang. Dia samping itu dia juga tetap memproduksi batik tulis maupun batik cap.

"Sebelum pandemi banyak yang ikut pelatihan. Ada yang dari umum, anak-anak SD, SMP maupun SMA. Itu biasanya sekolah yang mendaftarkan pelatihan. Jadi hampir 10 anak per hari yang datang. Tapi semenjak pandemi sepi, paling hanya ada 1-2 orang saja," terang Widya yang juga mengakui omzet maupun pendapatan menurun sejak pandemi. Dia berharap pandemi segera berlalu sehingga ekonomi bisa tumbuh lagi. (Tribunjateng/wid)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved