Breaking News:

Book Lover

Bunda Nina Memahami Hakikat Rezeki setelah Baca Buku "Kembali ke Titik Nol"

Kembali ke Titik Nol merupakan seri pertama dalam Tetralogi Hijrah karya Saptuari Sugiharto. Materi buku ini membuat Bunda Nina terkesima.

Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: moh anhar
ISTIMEWA
Diana Erlinawati 

Penulis: Akhtur Gumilang

TRIBUNJATENG.COM - Baru di halaman pertama buku, hatinya langsung tersentuh. Pengalaman itu teringat betul oleh Diana Erlinawati ketika membaca buku berjudul Kembali ke Titik Nol karya Saptuari Sugiharto beberapa waktu lalu.

Berikut sepenggal kisah di halaman pertama tersebut: "Sore itu sepulang sekolah aku dipanggil ayahku, menyodorkan selembar kertas dengan tulisan tangan, dan aku diminta membacanya...'Ketika engkau dulu lahir ke dunia semua orang tertawa.. Tapi kau menangis sendirian.. Ketika dewasa, buatlah hidupmu berarti untuk sesama.. Sehingga engkau percaya, dan tidak takut menghadapi maut.. Dan bilamana maut itu datang, sambutlah dengan senyuman.. Biarlah orang lain yang berkesedihan...'Jakarta di bulan November 1990. Sebulan kemudian ayahku meninggal dunia.."

Bunda Nina, panggilan akrabnya, tak menyangka jika di awal-awal cerita langsung dibuat jleb. Dia menjelaskan, Kembali ke Titik Nol merupakan seri pertama dalam Tetralogi Hijrah karya Saptuari Sugiharto. Buku tersebut merupakan pemberian dari sang suami yang juga kebetulan gemar membaca seperti dirinya.

"Kami memang punya kebiasaan beli buku baru tiap bulan. Bebas bukunya mau apa saja asal bermanfaat. Suatu ketika, aku tiba-tiba dikasih langsung semua karya Tetralogi Hijrahnya Saptuari oleh suami. Aku disuruh baca terlebih dahulu yang seri pertamanya yakni Kembali Ke Titik Nol. Pas baru buka halaman pertamanya, kok malah langsung mengena di hati," ucap ibu berusia 45 tahun itu.

Bunda Nina mengingat hanya butuh hampir sepekan saja dalam menyelesaikan buku seri pertama itu. Hal itu pun berlaku bagi karya-karya selanjutnya yakni berjudul, Berani Jadi Taubaters, Mencari Jalan Pulang, dan Doa Tak Tertolak. Semuanya sudah ludes dilahap Bunda Nina yang berprofesi sebagai Guru IPA di SMPN 3 Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jateng itu.

Bunda Nina mengaku sangat terkesima dengan catatan perjalanan Saptuari yang diwujudkan menjadi Tetralogi Hijrah. Dari semua bukunya tersebut, yang paling istimewa bagi Bunda Nina adalah seri pertamanya yaitu, Kembali ke Titik Nol.

Di buku pertama, kata Bunda Nina, sebenarnya menceritakan kisah-kisah inspiratif perjuangan para pengusaha yang sebagian besar pernah ditemui sang penulis, untuk membebaskan diri dari jeratan riba. Bunda Nina menilai, penulis bukan ingin menghujat lembaganya, melainkan hanya sekadar menggambarkan bagaimana sistem riba berjalan.

"Penulis buku memberi istilah 'ilusi riba dan kita menikmatinya'. Dalam buku itu, kita dituntun paham bahwa rezeki Allah itu pasti cukup untuk hidup, tapi tak akan pernah cukup untuk gaya hidup. Ada 11 bab di buku ini. Di awali Bab 1 yang menjelaskan secara singkat bahwa rezeki itu bila dikejar malah lari, udah pasrah malah datang sendiri," kata perempuan yang juga berprofesi sebagai editor bagi sejumlah buku fiksi dan karya ilmiah ini.

Berlomba dalam kebaikan

Bunda Neni menjelaskan, buku seri pertama ini secara garis besar memang menggambarkan tentang apa itu usaha, berbisnis, mengelola bisnis, serta tantangan akan kekuatan dan jebakan riba. Buku ini disertai kisah-kisah dari berbagai macam pengusaha dari yang besar sampai kecil. Lalu dari yang berbisnis di kampung hingga di luar negeri.

"Bagaimana mereka sukses, namun tiba-tiba terjatuh, lalu akhirnya sadar untuk “kembali” kepada yang benar. Buku ini mengajarkan kita bahwa sesungguhnya, semua harta kita adalah dari Tuhan. Maka, berlombalah dalam kebaikan, mengumpulkan bekal untuk akhirat kita," sambung pegiat literasi ini.

Menurut Bunda Neni, inti buku ini terdapat pada Bab 10. Di bab ini juga yang membuat Bunda Nina akhirnya tertarik untuk merampungkan tiga buku selanjutnya. Lalu, akhirnya Bunda Nina pun mendapat inspirasi yakni melahirkan motto hidup yang berbunyi, "berbagi ilmu, tingkatkan pundi amalmu".

"Judul bab ini adalah, Inspirasi Hidup Manfaat. Sebagian besar catatan kisah orang yang ikhlas bersedekah. Namun maksud dari bab ini mengajak pembaca untuk Berlomba dalam Kebaikan, mengumpulkan bekal untuk akhirat. Yang paling berkesan dari buku ini adalah menggugah kita tanpa menggurui. Mengajak kita untuk selalu mengingat dan berserah diri pada Allah SWT, Tuhan Sang Maha Pemilik Alam Semesta," urai warga Sokaraja, Banyumas ini.

Bunda Nina mengatakan, ia sudah gemar membaca sejak kecil. Dulu, ia senang membaca buku-buku kepahlawanan dan para penemu dunia. Hobi itu terus ia rawat hingga di usianya sekarang. Selain membaca, Bunda Nina aktif juga dalam menulis. Sejauh ini, Bunda Nina sudah menelurkan banyak buku, baik fiksi antalogi cerpen dan puisi maupun karya ilmiah. (gum)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved