Berita Tegal
Grup Whatsapp RCT Permudah Penanganan Gangguan Listrik di Tegal
Hampir tiap menit, perhatian Saefudin tak lepas dari grup Whatsapp bernama Reaksi Cepat Tanggap (RCT).
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM,TEGAL- Hampir setiap menit, perhatian Saefudin (31) tidak lepas dari grup Whatsapp bernama Reaksi Cepat Tanggap (RCT).
Kedua bola matanya fokus membaca tiap informasi kejadian di wilayah Kota Tegal.
Jika mendapatkan informasi gangguan listrik, jari-jemarinya dengan sigap menuliskan pesan 'Siap, segera dicek petugas'.
Beberapa menit kemudian, petugas mendatangi lokasi gangguan listrik dan melakukan perbaikan.
Saefudin yang bertugas sebagai Supervisor Teknik di PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Tegal Kota, memiliki pengalaman tersendiri dengan grup RCT.
Dia merasa terbantu dengan adanya grup RCT tersebut.
RCT sendiri merupakan grup yang beranggotakan instansi pemerintah dan swasta yang bersifat pelayanan masyarakat.
Saefudin mengatakan, potensi terjadinya gangguan listrik di musim penghujan sangat tinggi. Penyebabnya beragam, seperti angin kencang, petir, binatang, dan pohon atau baliho roboh.
Saat terjadi pohon roboh yang mengganggu kabel listrik, biasanya ia akan menghubungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tegal, untuk meminta bantuan pemotongan pohon.
"Misal ada gangguan pohon roboh, pohonnya besar, gak mungkin kita kerjakan sendiri. Karena satu sifnya hanya tiga orang. Kita pasti minta bantuan. Kita menghubungi BPBD, pak tolong dibantu," kata Saefudin menceritakan manfaat adanya grup RCT kepada tribunjateng.com, Jumat (26/2/2021).
Menurut Saefudin, grup RCT menjadi bukti kesolidan berbagai lembaga di Kota Tegal.
Ia mencontohkan seperti kejadian angin kencang di wilayah Kecamatan Margadana, Kota Tegal kemarin, Jumat 26 Februari 2021.
Pihaknya melalui RCT juga menjalin kerjasama baik dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Tegal.
Saat akan ada perambasan pohon, maka pihak Disperkim akan berkoordinasi untuk pemadaman listrik. Begitu juga dengan DPUPR, ketika dibutuhkan alat berat.
"Jadi kita mengatasi masalah bersama. Kalau kita kerjain sendiri gak bakal rampung," ujarnya.
Siaga 24 Jam
Saefudin mengatakan, petugas di bagian pelayanan teknik totalnya berjumlah 26 orang. Dari total tersebut kemudian dibagi ke dua pos dengan pembagian kerja tiga sif.
Selama 24 jam mereka bekerja memperbaiki gangguan seperti kabel putus atau listrik padam.
Ia mengatakan, semasa musim penghujan potensi gangguan listrik lebih banyak terjadi. Hal itu diakibatkan banyak kejadian pohon tumbang.
"Tim itulah yang diketahui masyarakat sebagai PLN. Tiap hari kalau mati lampu dia yang muter-muter, cari lokasi gangguan," katanya.
Saefudin bercerita, banyak masyarakat yang tidak tahu pekerjaan teknisi perbaikan aliran listrik. Mereka tiap hari bekerja di lapangan dengan taruhan nyawa.
Tapi masih banyak masyarakat yang suka protes karena lamanya proses perbaikan listrik. Ia mengatakan, dalam bekerja para petugas PLN butuh hati-hati.
Terlebih saat terjadi hujan, maka perlu diperhatikan tidak ada petir. Karena meskipun tegangan sudah dimatikan, namun petir bisa berinduksi.
"Kadang-kadang pelanggan inginnya cepat nyala. Saya pun begitu. Tapi kalau ada yang membahayakan, pasti kita tunda dulu. Kalau sudah aman, baru kita kerjakan lagi," jelasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/petugas-cek-gangguan-listrik-tegal.jpg)