Breaking News:

Kesehatan

Waspada Anak Sembelit, Ternyata Penyebabnya Banyak Lantaran Suka Menahan Pup

Paling banyak penyebab anak sembelit, hampir 90 persen karena fungsional. Sedangkan konstipasi organik jarang sekali ditemui.

TRIBUN JATENG
Anak Menahan Sakit Perut 

TRIBUNJATENG.COM - Memang banyak anak-anak yang mengalami susah Buang Air Besar (BAB) atau pup. Berdasarkan literatur yang ada, anak-anak sampai 30 persen datang ke dokter karena masalah seputar BAB. Dalam istilah kedokteran, problem itu biasa disebut konstipasi.

Dokter Domiko Widyanto, SpA, mengatakan, biasanya, konstipasi itu gejalanya adalah pertama, frekuensi pup memang berkurang. Dikatakan kurang apabila dalam seminggu hanya pup sebanyak dua sampai tiga kali. Kedua, tinjanya jadi lebih keras dan besar dari biasanya. Ketiga, disertai rasa nyeri pada saat pup. Jika masuk ke dalam kriteria tiga gejala tersebut, maka sang anak dipastikan mengalami konstipasi.

Konstipasi biasanya disebabkan karena fungsional (normal) dan organik (penyakit). Paling banyak, hampir 90 persen penyebabnya karena fungsional. Sedangkan konstipasi organik jarang sekali ditemui. Biasanya, paling sering dijumpai adalah karena stress dan takut ke kamar mandi. Beberapa anak diketahui memang takut ke kamar mandi. Misalnya karena kecoa, imajinasi horor, dan tidak nyaman ke kamar mandi sehingga takut.

Dari serangkaian rasa takut itu akhirnya membuat si kecil menahan untuk tidak mengeluarkan pupnya. Hal itu dapat kian diperparah apabila saat pup mengalami sakit dan susah keluar. Ketika mulai mules, trauma akan rasa sakit saat pup muncul di pikiran. Apalagi sampai keluar darah tentu membuat si kecil makin enggan BAB. Alhasil, si kecil memilih untuk menahan pupnya kembali.

Ketika ditahan, maka tinja tetap berada di usus. Perlu diketahui bahwa fungsi usus adalah menyerap. Sehingga, ketika tinja tidak segera dikeluarkan, maka usus akan menyerap lagi. Hal itulah yang membuat tinja menjadi keras. Apabila sering ditahan, tinja makin menumpuk, juga makin keras. Ketika sudah makin keras dan menumpuk, maka untuk dikeluarkan pun pasti akan sakit. Rasa sakit inilah yang ditakuti para anak-anak. Masalah ini memang terus berputar.

Selain rasa takut, masalah ini juga dipengaruhi karena kurangnya minum air putih dan mengonsumsi serat. Makanan tertentu yang banyak mengandung tepung pun turut memicu susahnya BAB pada anak. Misalnya roti, mie, biskuit, atau susu yang takarannya melebihi anjuran pemakaian. Umumnya, masalah konstipasi fungsional memang dikarenakan masalah-masalah tadi.

Dalam menangani konstipasi, biasanya ada dua cara yakni melalui medis maupun non-medis. Kalau secara medis, apabila pupnya sudah lama tidak keluar disertai nyeri dan pup yang menumpuk di perut, maka mau tak mau harus dievakuasi. Dikeluarkan tinjanya dengan cara memasukan cairan tertentu ke dalam anus. 
Setelah itu, si anak akan diberi terapi berupa obat-obat tertentu yang harus dikonsumsi. Obat itu dapat memacu anak untuk mules. Alhasil, mau tidak mau kondisi itu tentu membuat anak harus pup. Setelah cara medis tersebut, kemudian sang anak harus diiringi dengan metode non-medis. Yakni cukupi cairan si kecil, minimal 1 liter per hari. Cukupi juga serat-seratan dari buah dan sayuran. Dianjurkan buah pepaya dan buah naga. Kemudian terakhir jangan lupa memberi pijatan-pijatan lembut di bagian perut. (gum)

Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved