Selasa, 12 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Viral

Warung Makan Sederhana Ini Bernilai Rp 25 Miliar, Ternyata Ada Kisah Panjang di Baliknya

Kakek dari empat cucu ini mengungkapkan pada 1990 rumah dan tanahnya itu menjadi incaran perusahaan-perusahaan besar

Tayang:
Editor: muslimah
Sumber: Switzy Sabandar/KOMPAS.TV
Tanah warung makan Bu Lasiyem seluas 1.000 meter persegi yang berada di Jalan Palagan Desa Sariharjo, Ngaglik, Sleman itu ditaksir senilai Rp 25 miliar.  

Warung Makan Sederhana Ini Bernilai Rp 25 Miliar, Ternyata Ada Kisah Panjang di Baliknya
 
TRIBUNJATENG.COM, YOGYAKARTA - Kisah menarik di balik tanah tempat warung makan Bu Lasiyem berdiri belakangan viral dan menuai perhatian netizen di media sosial.

Diketahui, tanah warung makan Bu Lasiyem seluas 1.000 meter persegi yang berada di Jalan Palagan Desa Sariharjo, Ngaglik, Sleman itu ditaksir senilai Rp 25 miliar.

Lokasi bangunan itu cukup mencolok

Bukan karena besarnya melainkan keberadaannya yang seolah-olah menyelip di lahan Hotel Hyatt.

Warung makan Bu Lasiyem itu milik pasangan suami istri Tukidi (70) dan Lasiyem (60).

Tanah warung makan Bu Lasiyem seluas 1.000 meter persegi yang berada di Jalan Palagan Desa Sariharjo, Ngaglik, Sleman itu ditaksir senilai Rp 25 miliar. 
Tanah warung makan Bu Lasiyem seluas 1.000 meter persegi yang berada di Jalan Palagan Desa Sariharjo, Ngaglik, Sleman itu ditaksir senilai Rp 25 miliar.  (Sumber: Switzy Sabandar/KOMPAS.TV)

Tukidi bercerita, rumahnya itu dibangun pada 1985.

Lahan kosong di sekitarnya digunakan untuk bercocok tanam.

Sejak dibangun hingga sekarang, rumah putih berpadu warna merah muda pada bagian atas itu belum berubah sama sekali dan belum pernah direnovasi.

Bahkan bangunan ini sudah berdiri lebih dulu sebelum Hotel Hyatt dibangun di atas tanah seluas 24 hektare.

Sepintas keberadaan bangunan itu terasa bertolak belakang keberadaan hotel.

Sejak 1992, ia bersama dengan sang istri berjualan makanan.

Warung kecilnya itu sudah punya banyak pelanggan.

Kakek dari empat cucu ini mengungkapkan pada 1990 rumah dan tanahnya itu menjadi incaran perusahaan-perusahaan besar.

Mereka menginginkan tanah Tukidi bisa dijual seperti warga lainnya. 

Namun, pada saat itu pihak pembeli tidak memberikan penawaran yang tinggi.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved