Berita Internasional
Tentara dan Polisi Myanmar Tebar Ancaman Pembunuhan Bagi Pengunjuk Rasa Lewat TikTok
Situasi di Myanmar kini tengah memanas, di mana jutaan penduduk turun ke jalan melakukan protes.
TRIBUNJATENG.COM – Situasi di Myanmar kini tengah memanas, di mana jutaan penduduk turun ke jalan melakukan protes.
Protes itu dilakukan sebagai bentuk kudeta oleh junta militer Myanmar pada 1 Februari 2021.
Di mana para pemrotes meminta junta militer membebaskan sejumlah pejabat, termasuk Aung San Suu Kyi yang terpilih secara demokrasi.
Banyaknya rakyat Myanmar yang melakukan protes, membuat militer dan polisi negara itu menebar ketakuan yang disertai ancaman.
Tentara dan polisi Myanmar yang bersenjata menggunakan TikTok untuk menyampaikan ancaman pembunuhan kepada pengunjuk rasa.
Para pengamat meminta dengan segera kepada aplikasi besutan China itu untuk menghapus konten yang memicu kekerasan.
Kelompok hak digital Myanmar ICT for Development (MIDO) mengatakan telah menemukan lebih dari 800 video pro-militer yang mengancam pengunjuk rasa.
Video TikTok itu semakin banyak diunggah pada saat protes penumpahan darah terus meningkat.
Di mana laporan menurut PBB menyebut sebanyak 38 pengunjuk rasa telah tewas dalam protes itu, Rabu (3/3/2021).
"Itu hanya puncak gunung es," kata direktur eksekutif MIDO, Htaike Htaike Aung, dikutip dari Reuters, Jumat (5/3/2021).
Ia mengatakan ada ratusan video yang dilakukan tentara dan polisi berseragam untuk menebarkan ancaman di aplikasi TikTok itu.
Seorang juru bicara tentara dan junta tidak berkomentar apapun terkait video pengancaman itu yang diduga dari pihaknya.
Sebuah video menunjukkan seorang pria berseragam tentara mengarahkan senapan serbu ke kamera.
Di depan kamera, ia memberikan pesan ancaman kepada pengunjuk rasa.
"Saya akan menembak di wajah sialan Anda dan saya akan menggunakan peluru sungguhan," katanya.