Breaking News:

Berita Salatiga

Pengembangan Ekonomi Kreatif di Salatiga Terkendala Sarana Infrastruktur

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Salatiga menyebut pengembangan ekonomi kreatif di Kota Hati Beriman tergolong lambat karena terkendal

TRIBUN JATENG/HERMAWAN ENDRA
ILUSTRASI - Disporapar Jawa Tengah, menggelar event bersama wilayah Kedung Sepur (Kendal-Demak-Ungaran-Salatiga-Semarang-Purwodadi), Selasa (3/11) 

Penulis: M Nafiul Haris

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Salatiga menyebut pengembangan ekonomi kreatif di Kota Hati Beriman tergolong lambat karena terkendala sarana infrastruktur.

Kepala Disbudpar Kota Salatiga Valentino Haribowo mengatakan, pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan sarana infrastruktur penunjang seperti gedung dan akses internet dengan kecepatan tinggi.

"Ini untuk mendukung pendampingan pelaku ekonomi kreatif mulai dari pelatihan hingga pemasaran secara digital. Tetapi faktanya Salatiga belum memiliki tempat khusus untuk pertemuan, pelatihan hingga pemasaran dengan fasilitas internet berkecepatan tinggi itu," terangnya saat dihubungi Tribunjateng.com, Sabtu (6/3/2021)

Menurut Valentino, rata-rata pelaku ekonomi kreatif bekerja secara tersebar dan berjalan sendiri-sendiri.

Sehingga, apabila tersedia ruang khusus untuk berkumpul pendampingan guna mengembangkan potensi ekonomi kreatif dapat lebih maksimal.

Ia menambahkan, sejauh ini Disbudpar  belum memiliki anggaran untuk membangun gedung pelatihan maupun pengadaan internet untuk pengambangan ekonomi kreatif.

"Maka saya berharap pada perubahan APBD Kota Salatiga 2021 nanti, Disbudpar mendapatkan anggaran untuk memulai pembangunan infrastruktur penunjang ekonomi kreatif," katanya.

Sebelumnya, Ketua Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Roy Wibisono menyatakan, sejauh ini para pelaku usaha kreatif rata-rata mengalami kendala dalam mengembangkan usahanya, terlebih yang asal buat.

Kedepan butuh pendampingan, seperti pelatihan-pelatihan. 

"Ke depan, pelaku usaha ekonomi kreatif perlu didata guna menghindari persamaan produk. Selain juga perlu dilakukan perbaikan database dan pendampingan yang dibutuhkan mulai dari riset, desaign hingga pemasaran," ujarnya. (ris)

Penulis: M Nafiul Haris
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved