Berita Sragen
Perajin Desa Sepat Masaran Kampanyekan Prokes Melalui Kerajinan Tas dan Keset Anyaman
Perajin di Desa Sepat, Masaran, Sragen kampanyekan Prokes melalui kerajinan tas anyaman dan kaset.
Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Perajin di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen kampanyekan Prokes melalui kerajinan tas anyaman dan kaset.
Tas yang berasal dari bahan plastik kaca dan kaset dari kain ini dianyam oleh perajin dan menghasilkan tulisan kata-kata taat Prokes.
Seperti cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, 5M, hindari kerumunan, kurangi mobilitas dan masih banyak lagi.
Yenni Eka Yulianti salah satu pelopor ide kreatif ini mengatakan ide kreatif ini bermula ketika peminat tas yang ia buat selama ini biasa-biasa saja. Bahkan sepi akibat Pandemi.
Saat masa Pandemi Covid-19 seperti ini, pihaknya berinovasi membuat tas jali-jali dengan bahan yang lebih bagus, kuat dan tahan lama.
"Awalnya jualan tas biasa buat ke pasar sama kondangan gitu. Akhirnya saya mengembangkan dan berinovasi membuat tas jali-jali dengan bahan yang lebih bagus kuat dan tahan lama," terang Yenni kepada Tribunjateng.com, Rabu (10/3/2021).
Dia mengaku masih banyaknya masyarakat yang terpapar corona namun masyarakat masih mengabaikan Prokes menjadi pemacu ide dalam tas tersebut dituliskan kata-kata Prokes.
Pihaknya mempunyai ide untuk mengkampanyekan Prokes agar masyarakat taat Prokes melalui kerajinan jali-jali dan keset.
"Kita mempunyai ide untuk mengkampanyekan melalui kerajinan kami. Muncullah ide untuk memberi tulisan prokes di kerajinan kami," lanjut dia.
Dia mengatakan, selain meingkatkan minat pelanggan pihaknya juga mendukung program pemerintah tentang protokol kesehatan.
Karena belum banyak kerjinan tas dengan tulisan protokol kesehatan, dirinya berharap inovasi ini membuat masyarakat lebih peduli tentang prokes 5M dimasa pandemi ini.
Tak hanya itu, dirinya juga terinsipirasi dari media sosial tentang perkembangan anyaman tas dan melihat ada kalangan artis yang menggunakan tas jali-jali.
"Alhamdulillah banyak yang minat karena melihat kalangan artis juga pakai barang bagus, kuat, tahan lama praktis bisa digunakan dimana saja dan harga terjangkau," imbuhnya.
Yenni mengaku juga memanfaatkan peluang dari Gubernur Jakarta mengenai pelarangan menggunakan kantong plastik.
Dengan adanya tas jali-jali yang belum banyak yang tahu diharapkan masyarakat bisa menggunakan tas jali-jali untuk mengurangi sampah plastik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pengrajin-di-desa-sepat.jpg)