Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi Pagi

FOKUS: Turnamen Obat Kangen

SETELAH sekian lama menahan rindu, penggemar sepakbola Tanah Air merasa lega. Setahun lebih tak menyaksikan laga sepakbola Liga 1

Penulis: Erwin Ardian | Editor: muslimah
Tribun Jateng
Pemimpin Redaksi Tribun Jateng, Erwin Ardian. 

Ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Erwin Ardian

SETELAH sekian lama menahan rindu, penggemar sepakbola Tanah Air merasa lega. Setahun lebih tak menyaksikan laga sepakbola Liga 1, akhirnya para penggemar bisa kembali menyaksikan pemain-pemain favorit mereka berlaga dalam Piala Menpora 2021.

Meski tak selengkap tim-tim yang ikut dalam Liga 1, setidaknya tim yang ikut dalam turnamen ini sudah mewakili untuk sekadar jadi obat kangen melihat aksi-aksi pemain lokal di lapangan hijau.

Sejak pandemi Covi-19 melanda dunia, hampir semua kegiatan olahraga termasuk sepakbola dihentikan. Pemain-pemain elit sekelas Ronaldo dan Messi pun harus istirahat. Semua pertandingan terhenti. Dunia yang sepi karena lock down dimana-mana, makin sepi tanpa satu pun pertandingan sepakbola.

Para penggila sepakbola di Eropa lebih beruntung karena kompetisi disana tak berhenti terlalu lama. Sedangkan di Indonesia, roda kompetisi di semua liga berhenti hingga setahun lebih. Tak hanya para suporter, para pemain dan mereka yang selama ini menggantungkan hidupnya dari sepakbola harus gigit jari.

Dan harapan itu datang juga. Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menginisiasi Turnamen Piala Menpora 2021. Menurut rencana, 18 tim elit negeri ini akan bertanding di empat kota mulai 21 Maret hingga 25 April mendatang.

Namun di balik semangat para penggemar bola yang sebentar lagi bisa menyaksikan pertandingan, ada beberapa pihak yang mendesak agar turnamen ini dibatalkan. Salah satunya adalah organisasi Indonesia Police Watch (IPW)

Ketua Presidium IPW Neta S Pane, terang-terangan menentang kehadiran Piala Menpora 2021. Selain alasan yang sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI_ soal potensi munculnya kluster baru penuralaran COVID-19, IPW juga mengemukakan beberapa alasan lain.

Di antara alasan-alasan yang dilontarkan Neta adalah mulai dari nama turnamen yang berubah-ubah. Awalnya turnamen ini sempat akan dinamai Piala Presiden. Neta juga mengatakan alasan lain yakni, klub yang masih bermasalah soal gaji pemain, adanya pemain asing ilegal hingga kekhawatirannya akan ada pemain yang tak taat bayar pajak.

Melihat banyaknya alasan untuk menghentikan turnamen, IPW bahkan menyimpulkan bahwa Piala Menpora 2021 adalah turnamen ecek-ecek alias turnamen tak berkelas.

Kekhawatiran IDI dan IPW terhadap turnamen sepakbola di negeri ini layak diapresiasi. Bukankah kita semua tak mau virus covid makin merajalela hingga melumpuhkan segala aspek kehidupan termasuk olahraga?

Namun yang perlu dimengerti juga adalah kerinduan publik akan atraksi sepakbola berkualitas yang sudah lama menghilang. Kalau IPW mampu menemukan 9 alasan agar turnamen sepakbola dibatalkan, sebaliknya para penggemar sepakbola akan dengan mudah menemukan 99 alasan masuk akal agar turnamen sepakbola, apapun namanya, termasuk turnamen ecek-ecek bisa segera digelar.

Terkait pencegahan covid, turnamen bisa saja digelar tanpa penonton, dan semua pemain maupun ofisial bisa saja divaksinasi lebih dulu. Apalagi alasan soal pajak. Bukankah banyak orang di negeri ini termasuk aparat bahkan pejabat yang mungkin menunggak pajak? Tapi apakah itu membuat institusi dan semua kegiatannya dibekukan?

Atau jangan-jangan kalau dicari, alasan untuk membubarkan IPW pun justru lebih banyak. Termasuk alasan kenapa Ketua Presidiumnya tak pernah ganti, dan siapa yang memilih? Siapa yang mengawasi lembaga ini kalau mereka salah? Pencegahan covid-19 memang prioritas, tapi tak ada salahnya mengobati kerinduan suporter sepakbola, tanpa melupakan prosedur kesehatan. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved