Breaking News:

Ngopi Pagi

FOKUS: Menjaga Tetangga

DALAM seminggu terakhir ini, rasa empati kita campuraduk membaca berita akses jalan menuju empat rumah warga di Desa Widodaren, Pemalang, Jawa Tengah

Penulis: rustam aji | Editor: iswidodo
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
RUSTAM AJI wartawan Tribun Jateng 

Ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Rustam Aji

DALAM seminggu terakhir ini, rasa empati kita campuraduk membaca berita akses jalan menuju empat rumah warga di Desa Widodaren, Pemalang, Jawa Tengah, ditembok dan dibangun bangunan permanen oleh pemiliknya. Hal itu mengakibatkan empat keluarga terisolasi dan kesulitan keluar masuk. Warga pun harus bersusah payah melewati jalan sempit yang di bawahnya terdapat saluran air atau got.

Meski saat ini katanya pemilik lahan mulai membuka “akses” dialog dengan warga yang merasa terisolasi akibat pembangunan tersebut, namun perjalanan upaya dialog sempat berjalan alot. Dan, hingga kini masih dalam upaya dialog yang dimediasi pihak desa setempat untuk mencari solusi.

Adanya kasus tersebut, tentu cukup mengusik rasa toleransi kita. Apalagi, selama pandemi Corona, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menggalakkan program “jogo tonggo”. Artinya bahwa antartetangga harus saling membantu manakala tetangga lainnya lagi kesulitan (terkena Covid-19).

Budaya saling menolong dan toleransi (saling menghormati dan menghargai perbedaan) antarsesama harus ditumbuhkan. Tetangga adalah bagian keluarga terdekat dalam hidup bermasyarakat. Sebab, tetangga-lah yang akan kita mintai tolong pertama kali yang akan kita mintai tolong manakala ada musibah. Karena itu, antartetangga harus aling menjaga.

Hubungan rumit dalam bertetangga, pernah pula ditulis oleh Yusi Avianto Pareanom dalam sebuah cerpennya berjudul "Dari Dapur Bu Sewon".

Dikisahkan dalam cerpen tersebut, Bu Sewon. Perempuan yang sekaligus pemilik rumah kontrakan yang dihuni tokoh utama ini suka memasak. Apa pun yang ia masak, tetangganya –tokoh utama dalam cerpen—selalu diberi. Dari hanya sekadar kolak hingga sup daging, Bu Sewon tidak pernah lupa mengirim ke tetangga itu.

Sayang, masakannya tidak terlalu enak, rasanya sering hambar. Sehingga si tetangga merasa jadi subjek eksperimen memasak Bu Sewon.

Itulah sekelumit kisah kehidupan bertetangga yang dikisahkan Yusi. Setidaknya Bu Sewon adalah tetangga yang baik hati meski masakan yang dikirimkan ke tetangganya itu kurang enak.

Apa yang dicontohkan Bu Sewon dalam cerpen itu, patutlah untuk dihayati. Tentu saja dalam konteks yang diberikan ke tetangga haruslah yang terbaik. Bukan sebagaimana yang dialami oleh kehidupan bertetangga seperti di Desa Widodaren, Pemalang.

Hal itupun telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW dalam hidup bermasyarakat. Salah satunya kebiasaan membagikan makanan untuk para sahabat dan tetangganya.

Dikisahkan dalam HR. At-Tirmidzi, Rasulullah selalu membagikan makanan untuk para sahabat dan tetangga terdekatnya. Terlebih jika sang istri (Aisyah) membuat makanan enak.

Bahkan, demi sahabat dan tetangga, Aisyah diminta membagikan makanan kesukaan Rasulullah yaitu paha domba (kambing) hingga yang tersisa hanya beberapa potong saja untuk dimakan Rasulullah dan Aisyah.

Kepada Aisyah, Rasulullah mengatakan bahwa yang habis adalah apa yang kita makan dan yang kekal adalah apa yang kita sedekahkan.

Berkaca dari teladan Rasul tersebut, alangkah indahnya kalau tetangga yang memiliki kelebihan tanah seperti di Pemalang itu mau berbagi. Itulah arti penting menjaga tetangga. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved