Pendidikan
Rangkaian Dies Natalis: LP2M UIN Walisongo Semarang Ziarahi 51 Makam Wali dan Masyayikh
UIN Walisongo Semarang melakukan roadshow ziarah 51 makam wali dan masyayikh dalam rangka Dies Natalis ke-51 UIN Walisongo Semarang.
Penulis: m zaenal arifin | Editor: moh anhar
Penulis: M Zaenal Arifin
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang melakukan roadshow ziarah 51 makam wali dan masyayikh dalam rangka Dies Natalis ke-51 UIN Walisongo Semarang.
Di antaranya ziarah ke Makam Ratu Kalinyamat di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Sultan Hadlirin dan Sunan Jepara, Selasa (16/3/2021) kemarin.
Rombongan dari LP2M UIN Walisongo Semarang tiba di komplek masjid dan makam Ratu Kalinyamat dan diterima juru kunci Makam Mantingan.
"Ziarah ke makam Ratu Kalinyamat, Sultan Hadlirin dan Sunan Jepara ini menjadi bagian dari kegiatan roadshow ziarah 51 makam Wali dan Masyayikh dalam rangka Dies Natalis ke-51 kampus kami tercinta, UIN Walisongo Semarang," kata Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat LP2M, M Rikza Chamami, Rabu (17/3/2021).
Baca juga: Video Citilink Akan Buka Rute di Bandara Ngloram Blora
Baca juga: Wajah Penganiaya Balita, Pelaku Pacar Tantenya, Ini Penjelasan Kombes Pol Wahyu
Baca juga: Ali Ngabalin Minta Publik Abaikan Ucapan Amien Rais Soal Jokowi 3 Periode
Koordinator Nasional Kapus PPM PTKIN se-Indonesia itu menuturkan, ziarah 51 makam wali dan masyayikh dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan karena pandemi Covid-19 masih berlangsung.
Ketua LP2M UIN Walisongo Semarang, Akhmad Arif Junaidi menyampaikan bahwa kegiatan ziarah ini merupakan amanah dari Rektor UIN Walisongo Semarang untuk senantiasa tidak melupakan jejak dan sejarah para pendahulu yang telah berjasa dalam mensyiarkan Islam secara damai dan penuh kerahmatan.
Selain itu, kegiatan ziarah ke makam Mantingan Jepara juga napak tilas dari logo kampus UIN Walisongo yang terinspirasi dari salah satu ornamen geometri di masjid bersejarah di Mantingan.
"Ornamen yang berbentuk geometri itu sangat khas, mewakili seni Islam nusantara. la memiliki empat ruas yang saling bersinggungan dan berpadu. Empat ruas tersebut mewakili empat aspek utama pengembangan UIN Walisongo yaitu theo-anthroposentris, humanisasi ilmu-ilmu keislaman, spiritualisasi ilmu-ilmu modern, dan revitalisasi local wisdom," jelasnya.
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) itu mengungkapkan, hal yang menarik lainnya adalah pihaknya bersyukur dapat berziarah ke makam Mantingan yang menjadi tempat pesarean Ratu Kalinyamat yang merupakan putri dari Sultan Trenggono, Sultan Demak setelah Raden Fatah meninggal.
Baca juga: Ratusan Mahasiswa di Semarang Lolos Program Kampus Mengajar Kemendikbud
Baca juga: Winnie the Pooh Ajak Berantem Petugas Dinsos di Jalan, Kepalanya Copot
Baca juga: Ayah Melarang Main Game di HP, Gadis 16 Tahun Nyaris Tewas Bunuh Diri Terjun dari Jembatan
Ratu Kalinyamat diketahui merupakan perempuan tangguh yang menginspirasi banyak perempuan saat ini dalam aspek gerakan dan aktivitas sosial di ruang publik.
"Kita sangat mengenal sekali bahwa Jepara dalam perjalanan sejarah kotanya telah menghadirkan tiga putri tangguh dalam lembaran sejarah bangsa ini. Yaitu Putri Shima dari Kerajaan Kalingga, Ratu Kalinyamat, dan RA. Kartini," ujar Kepala Pusat Gender dan Anak, Titik Rahmawati, yang ikut berziarah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/jajaran-lp2m-uin-walisongo-semarang-melakukan-ziarah-makam-ratu-kalinyamat-tahunan-jepara.jpg)