Breaking News:

Sejumlah Kelompok Bergabung Menentang Kekerasan Junta Militer Myanmar

Kelompok pemberontak bergabung dengan kelompok etnis menentang tindakan keras junta militer terhadap demonstran.

Editor: Vito
Ye Aung THU / AFP
USIR DEONSTRAN - Polisi bergerak di jalanan untuk mengusir demonstran yang melakukan unjuk rasa menentang kudeta militer di Yangon pada Juat (26/2/2021). Aparat Myanmar semakin brutal dalam menghadapi aksi demostrasi menolak kudeta. Kepolisian pada Kamis (25/2/2021) malam, dilaporkan melepaskan beberapa tembakan ke udara, dan melemparkan granat setrum. 

TRIBUNJATENG.COM, NAY PYI TAW - kelompok pemberontak di Rakhine, Myanmar, Tentara Arakan (AA), bergabung dengan kelompok etnis lain untuk melawan kudeta militer. Mereka menentang tindakan keras junta militer terhadap demonstran.

Sejumlah kelompok bersenjata lain yang terlibat pertempuran di perbatasan juga telah mengisyaratkan dukungan mereka untuk gerakan pro-demokrasi.

"Sangat menyedihkan bahwa orang-orang tidak bersalah ditembak dan dibunuh di Myanmar," kata juru bicara AA, Khine Thu Kha, dalam sebuah pesan, Selasa (23/3), seperti dikutip dari Reuters.

Ia menegaskan, kelompoknya berdiri bersama rakyat. Thu Kha menyatakan, AA akan terus maju untuk membela orang-orang Rakhine yang tertindas.

Orang-orang etnis yang tertindas akan terus berjuang untuk melawan penindasan."Tindakan tentara dan polisi Burma saat ini sangat kejam dan tidak dapat diterima," tukasnya.

Sementara, ada semakin banyak aktivis, pembangkang, pembelot, dan politikus yang kabur dan mengungsi ke perbatasan timur Myanmar.

Di wilayah itu, mereka mencari bantuan dan perlindungan kelompok etnik bersenjata, khususnya Persatuan Nasional Karen (KNU).

Sekarang, ratusan pelarian telah berlindung di daerah yang dikuasai pemberontak di negara bagian Karen, Kayah, Mon, dan Shan di sepanjang perbatasan timur Myanmar dengan Thailand.

Juru bicara junta militer Myanmar Brigadir Jenderal Zaw Min Tun mengatakan dalam konferensi pers pada Selasa bahwa lebih dari 1.000 orang telah melarikan diri ke daerah perbatasan agar tidak ditangkap.

Sejumlah kelompok etnik di Myanmar secara terbuka mengecam kudeta militer pada 1 Februari dan aturan Dewan Administrasi Negara, nama yang dipakai junta militer.

Pemberontak Karen di Negara Bagian Karen bahkan mengerahkan pasukan untuk melindungi demonstran yang menentang junta militer.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved