Breaking News:

Berita Semarang

Larangan Mudik 2021, Timbulkan Polemik Dikalangan Pelaku Bisnis Transportasi

Pemerintah melarang mudik untuk lebaran 2021, hal ini menimbulkan polemik di masyarakat.

tribunjateng/desta leila kartika
Ketua Organda Semarang, Bambang Pranoto Purnomo 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Pemerintah baru-baru ini menyampaikan adanya kebijakan larangan mudik untuk lebaran 2021, hal ini pun menimbulkan polemik di masyarakat. Menanggapi kebijakan tersebut, Ketua DPC Organisasi Angkutan Darat (Organda) Semarang, Bambang Pranoto Purnomo mengharapkan adanya perhatian dari pemerintah kepada para pelaku bisnis transportasi.

“Dengan adanya upaya dari pemerintah untuk memutus mata rantai pandemi covid-19 ini melalui kebijakan larangan mudik, kami pada dasarnya mendukung, karena pemerintah ini kan mitranya Organda, disamping itu situasi saat ini pun pandemi belum berakhir. Namun, dengan adanya kebijakan ini, kami juga turut mengimbau pemerintah untuk bisa memperhatikan para awak supir agar kami pun juga bisa menikmati masa lebaran, mengingat biasanya masa lebaran itu menjadi masa panen kami,” ujar Bambang kepada Tribun Jateng, Minggu, (28/3/2021).

Bambang pun berharap pada lebaran tahun ini terdapat bantuan yang diberikan pemerintah kepada para pelaku bisnis transportasi, seperti pelaksanaan lebaran tahun lalu. Perhatian dari pemerintah tersebut sangat diharapkan supaya dapat membantu para pelaku bisnis transportasi.

“Berkaca dari adanya larangan mudik di tahun lalu juga, kami benar-benar drop tidak mendapatkan pendapatan di masa lebaran. Hanya saja di tahun 2020 lalu, situasinya kami para anggota Organda masih bisa bertahan dengan simpanan yang kami miliki, namun saat pandemi sudah berlangsung selama lebih dari setahun ini kami sudah benar-benar terpuruk. Sehingga saat ini mengharapkan adanya perhatian dari pemerintah,” terangnya.

Sementara itu, terkait dengan geliat para anggota Organda Semarang saat ini, dikatakan Bambang sudah mulai bergerak kembali, yang sudah diikuti dengan mulai perlahan-lahan adanya keberanian dari masyarakat untuk menggunakan transportasi umum. “Saat ini untuk geliat bisnis transportasi sudah mulai bertumbuh kembali, dibandingkan dimasa awal adanya pandemi, walaupun peningkatannya belum mencapai 50 persen. Meskipun begitu, kami sangat mengapresiasi adanya pertumbuhan di situasi saat ini,” jelasnya.

Adapun, Owner PT Padang Aran Group, Tugiman MT, mengatakan adanya pelarangan mudik 2021 ini sangat menyakitkan bagi para pelaku bisnis transportasi. Mengingat beberapa waktu lalu pemerintah sempat memberikan pernyataan diperbolehkannya mudik 2021, namun kabar baik tersebut ternyata tidak bertahan lama, yang kemudian disusul adanya pernyataan larangan mudik.

“Beberapa waktu yang lalu itu sempat boleh mudik, sekarang ini malah tidak boleh mudik. Kebijakan ini tentunya sangat menyakitkan kami karena sudah satu tahun pandemi ini berlangsung dan kami juga merupakan salah satu sektor yang terdampak paling parah. Kami tentunya memahami situasi saat ini yang masih dalam kondisi pandemi, namun kami harapkan adanya pemberian kebijakan yang jelas, jangan memberikan harapan kepada kami kemudian ternyata tidak boleh,” ucap Tugiman.

Pria yang sekaligus Ketua Asosiasi Pengusaha Transportasi Pariwisata Jawa Tengah (Aspatria Jateng) ini mengharapkan adanya pengkajian ulang terkait dengan kebijakan tersebut.

“Kalaupun tetap ada kebijakan larangan mudik ini, kami meminta adanya peraturan-peraturan yang jelas terkait dengan kebijakan ini. Kami pun juga mengharapkan adanya solusi yang diberikan pemerintah dengan adanya kebijakan ini, supaya sejalan ada aturan namun juga ada solusi bagi kami,” imbuhnya.

Ia pun mengkhawirkan adanya kondisi yang sama pada lebaran tahun ini dengan lebaran tahun lalu, dimana bisnis transportasi kala itu langsung terjun bebas ketika diterapkannya pelarangan mudik.

Sementara itu, Marketing & Sales PT Kencana Jaya Transindo, Muhamad Anhari mengatakan adanya kebijakan larangan mudik tersebut cukup merugikan untuk para pelaku bisnis transportasi dan wisata, karena kegiatan mudik lebaran merupakan momentum yang ditunggu-tunggu oleh para pelaku bisnis transportasi dan pariwisata guna mengembalikan kembali geliat ekonomi yang sudah terjun bebas lebih dari satu tahun akibat pandemi covid-19.

“Kami berharap pemerintah dapat mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang telah diambil dengan memperhatikan dan mendengarkan aspirasi masyarakat, karena selain merugikan para pelaku bisnis khususnya di bidang transportasi dan pariwisata, larangan mudik lebaran juga merugikan masyarakat umum karena lebaran adalah momentum untuk melepas rindu dengan sanak saudara dan bahkan lebaran adalah momentum untuk membangun ekonomi daerah asal. Seharusnya pemerintah cukup mengimbau dan memfasilitasi masyarakat yang akan mudik lebaran untuk selalu menerapkan protokol kesehatan, melakukan rapid atau swab sebelum bepergian, dan sebagainya,” ucap Hari.

Menurutnya, dengan adanya larangan tersebut sudah pasti akan terjadi kemerosotan atau penurunan jumlah penumpang yang akan menggunakan jasa transportasi umum. Hal ini pun mengacu dari lebaran tahun lalu, dimana Kencana Travel mengalami penurunan jumlah penumpang mencapai 50 persen lebih.

“Dengan adanya penurunan tersebut, yang dapat kami lakukan sebagai pelaku bisnis transportasi hanya bisa bertahan dan melakukan efisiensi sebanyak-banyaknya supaya perusahaan dan karyawan tetap dapat menyambung hidup,” tandasnya. (*)

Penulis: Ruth Novita Lusiani
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved