Tribun Jateng Hari Ini
10 Persen Pengguna Pertamax Diprediksi Beralih ke Pertalite
Dengan harga Pertamax kini mencapai Rp 16.250 per liter, selisih harga dengan Pertalite mencapai Rp 6.250 per liter.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter diperkirakan akan mendorong sebagian konsumen beralih ke Pertalite yang harganya tetap Rp 10.000 per liter.
Hal itu diungkapkan pakar energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti.
"Belajar dari pengalaman April 2022, ketika Pertamax naik 39 persen dan sekitar satu dari delapan orang pembeli pindah ke Pertalite, kami perkirakan penjualan Pertamax turun sekitar 10 persen," katanya, dikutip dari Antara, Minggu (14/6).
Menurut dia, kenaikan harga Pertamax tidak serta merta membuat masyarakat mengurangi aktivitas perjalanan. Sebaliknya, sebagian konsumen cenderung memilih BBM dengan harga yang lebih murah.
"Ketika harga Pertamax naik, orang-orang tidak mengurangi intensitas bepergian, tetapi berpindah ke BBM Pertalite yang lebih murah," ujarnya.
Dengan harga Pertamax kini mencapai Rp 16.250 per liter, selisih harga dengan Pertalite mencapai Rp 6.250 per liter. Yayan menuturkan, selisih harga itu menjadi yang terbesar sepanjang sejarah.
Meski demikian, ia menilai, kuota Pertalite masih cukup untuk mengakomodasi perpindahan konsumen dari Pertamax.
"Tetapi kuota Pertalite masih cukup untuk menampung perpindahan ini. Hanya sekitar sepertiga dari sisa kuota yang akan terpakai," bebernya.
Yayan menyatakan, dampak kenaikan harga Pertamax akan berbeda pada setiap kelompok masyarakat.
Pemilik mobil yang mengonsumsi sekitar 100 liter Pertamax per bulan diperkirakan harus mengeluarkan tambahan biaya sekitar Rp 395.000 per bulan.
Sementara pengendara motor dengan konsumsi 30 liter per bulan harus menambah pengeluaran sekitar Rp 119.000 per bulan.
Berdasarkan kelompok kesejahteraan masyarakat atau desil yang digunakan pemerintah, rumah tangga Desil 1 atau kelompok termiskin dinilai tidak terlalu terdampak karena hampir tidak menggunakan Pertamax.
Sementara, kelompok masyarakat kelas menengah atau Desil 5 hingga Desil 7 diperkirakan akan menjadi kelompok yang paling banyak beralih ke Pertalite untuk menekan pengeluaran.
Adapun, rumah tangga menengah atas pada Desil 8 dan Desil 9 yang umumnya merupakan pengguna mobil reguler akan menghadapi kenaikan biaya transportasi bulanan.
Sementara, kelompok rumah tangga terkaya atau Desil 10 diperkirakan menanggung beban terbesar akibat kenaikan harga Pertamax.
Pasalnya, armada perusahaan serta kendaraan operasional perkebunan dan pertambangan tidak diperbolehkan menggunakan BBM bersubsidi.
"Singkatnya, sekitar separuh dari total beban kenaikan ini ditanggung oleh 20 persen rumah tangga terkaya. Kenaikan Pertamax bekerja seperti pajak yang lebih banyak menyasar orang mampu," tuturnya. (Kompas.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/PERTAMAX-Seorang-pemudik-mengisi-BBM-jenis-Pertamax-di-sebuah-SPBU.jpg)