SD Terpencil di Banjarnegara Gunakan Satelit LAPAN
Mereka melakukan uji coba berkirim media pembelajaran melalui SSTV Satelit IO-86 LAPAN A2 ORARI.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: Daniel Ari Purnomo
Khoirul Muzakki
TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Di daerah perkotaan, penerapan pembelajaran dalam jaringan (daring) mungkin tidak jadi soal.
Tetapi bagi masyarakat di pedesaan terpencil, pelaksanaan pembelajaran dengan cara itu jadi ujian tersendiri bagi siswa dan pendidik.
Seperti halnya di SDN 4 Kalisat Kidul, Kecamatan Kalibening, Banjarnegara.
Di desa terpencil itu, jaringan telepon maupun internet sangat susah.
Ini jelas menghambat para siswa dan guru yang dituntut menggunakan jaringan internet untuk mendukung pembelajaran.
Beruntung, mahasiswa peserta program Kampus Mengajar di SDN 4 Kalisat Kidul, Kalibening, datang menawarkan solusi atas persoalan itu.
Sabtu (3/4/2021) lalu, mereka melakukan uji coba berkirim media pembelajaran melalui SSTV Satelit IO-86 LAPAN A2 ORARI.
Para mahasiswa itu tengah menjalankan program Kemendikbud untuk membantu pembelajaran di SD Terdepan, Terpencil dan Tertinggal (3T).
Di Banjarnegara, terdapat sekitar 100 mahasiswa yang di terjunkan di 16 SD dengan klasifikasi 3T.
Havid Adhitama, mahasiswa PGSD Unnes yang bertugas di SDN 4 Kalisat Kidul mengatakan, uji coba SSTV ini bukan tanpa alasan.
SDN 4 Kalisat Kidul, menurut dia, benar-benar terisolasi dari sinyal komunikasi digital.
“Di sini sinyal untuk akses internet tidak ada, jangankan internet, untuk SMS saja tidak bisa, "katanya
Siswa dan guru bahkan sulit berkomunikasi dan mengakses media dari daerah lain.
Padahal, untuk mengambil LK atau bahan pembelanaran menuju ke daerah lain, akses jalan cukup sulit .