Breaking News:

Menengok Lumbung Pangan di Candiwulan Banjarnegara Solusi Paceklik

Sebuah bangunan mirip rumah panggung tampak berbeda dengan rumah-rumah penduduk lainnya di Desa Candiwulan.

Istimewa
Lumbung pangan Kemakmuran di Desa Candiwulan Kecamatan Mandiraja, Banjarnegara. 

Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Sebuah bangunan mirip rumah panggung tampak berbeda dengan rumah-rumah penduduk lainnya di Desa Candiwulan, Kecamatan Mandiraja, Banjarnegara. Warga setempat menyebutnya lumbung.

Dalamnya bukan untuk tempat tinggal, melainkan gudang penyimpanan. 

Meski strukturnya sederhana, bangunan ini amat berarti bagi warga. Berton-ton gabah petani tersimpan rapi di dalamnya.

Di luar sana, banyak masyarakat yang mengkhawatirkan ancaman krisis pangan karena pandemi Covid 19 yang berkepanjangan. Tetapi sepertinya ini tidak berlaku bagi masyarakat Candiwulan.  Mereka punya cadangan pangan yang cukup untuk bertahan walau krisis menghadang. Desa itu dikelilingi sawah yang menghampar. Setiap panen melimpah pangan.

Tetapi bukan itu saja yang membuat warga tenang. Mereka punya lumbung pangan yang masih dilestarikan. Meski di tempat lain keberadaannya sudah tersisihkan. Saat musim paceklik, termasuk wabah berkepanjangan yang melumpuhkan perekonomian penduduk, lumbung jadi dewa penolong bagi mereka.

Ini alasan warga di Desa Candiwulan masih merawat lembaga tradisional itu sampai sekarang. Kepala Desa Candiwulan Supardaya mengatakan, keberadaan lumbung padi di desanya sudah sejak zaman dahulu.

“Itu sudah sejak dulu, yang berjalan di 4 RT,”katanya,  Rabu (7/4/2021) 

Keberadaan lumbung yang masih bertahan di era modern itu membuktikan, lembaga itu telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, khususnya petani. Semangat petani merawat lumbung pangan ini patut diacungi jempol. Supardaya mengatakan, pendirian lumbung pangan dilandasi kesadaran warga dalam menjaga ketahanan pangan.

Lumbung pangan, kata dia, begitu dirasakan manfaatnya, terutama saat masa paceklik yang biasanya terjadi di musim kering. Saat persediaan pangan rumah tangga menipis, atau bahkan habis, warga  bisa meminjam gabah di lumbung.

Dari gabah pinjaman itu, warga bisa mencukupi kebutuhan pangannya sembari menunggu musim panen datang. Mereka tentu wajib mengembalikan, namun bukan dalam bentuk uang. Saat panen tiba, warga mengembalikan pinjaman dengan gabah hasil panennya. 

"Misal pinjamnya sekuintal gabah, nanti dikembalikan saat panen satu kuintal lebih 15 kilogram," katanya

Supardaya mengatakan, stok gabah lumbung berawal dari iuran warga atau anggota yang punya komitmen sama untuk mengelola lembaga itu. Iuran pokok dari anggota mulanya berupa gabah 50 kilogram. Gabah itu kemudian diputar atau dipinjamkan lagi kepada anggota. Semakin lama, stok gabah di lumbung kian banyak karena ada kelebihan  pengembalian dari para peminjam. 

Menariknya, sebagian keuntungan lumbung dipakai untuk kegiatan sosial. Di antaranya untuk membeli kain kafan bagi warga yang meninggal. Ini tentu membantu meringankan beban keluarga warga yang meninggal. Selain itu, keuntungan lumbung akan dibagi ke anggota setiap pergantian pengurusan, 3 tahun sekali. 

"Yang pinjam anggota, nanti keuntungan juga akan kembali ke anggota dengan cara dibagi, " katanya.

Penulis: khoirul muzaki
Editor: Daniel Ari Purnomo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved